A g e n d a /FIB Unilak
  STATISTIK /FIB Unilak
  • Dikunjungi oleh : 359392 user
  • IP address : 54.92.148.165
  • OS : Unknown Platform
  • Browser :
  • Beranda
  • FIB Unilak, PT RAPP, LAMR dan Pemrov Riau Bersinergi Perjuangkan Mulok BMR
FIB Unilak, PT RAPP, LAMR dan Pemrov Riau Bersinergi Perjuangkan Mulok BMR

Kamis,27 Juni 2019

Upaya untuk memperjuangkan mata pelajaran Muatan Lokal (mulok) Budaya Melayu Riau (BMR) agar diakui dan masuk dalam sistem pendataan skala nasional terus digesa oleh berbagai pihak di Provinsi Riau. Perjuangan yang dilakukan sejak beberapa tahun belakangan ini, dapat dikatakan semakin menunjukkan hasil yang ingin dicapai bersama. Tentu saja, hal itu tidak lepas dari kerja keras dan sinergitas dari berbagai pihak.

Fakultas Ilmu Budaya bersama dengan PT. Riau Pulp and Paper, Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), dan pemerintah Provinsi Riau menggelar Training of Trainer Uji, Finalisasi Modul Pembelajaran Budaya Melayu Riau selama empat hari (23-26 Juni 2019). Kegiatan dipusatkan di Kampus Universitas Lancang Kuning, tepatnya di Gedung Pustaka Unilak.

Ketua Pelaksana, Dr Junaidi menyebutkan , kegiatan ini dimaksudkan untuk mempersiapkan para tutor Mulok Budaya Melayu Riau, menyusun modul pembelajaran, menghimpun dan mengembangkan materi pembelajaran. Kesemua itu nantinya akan dipersentasikan di hadapan guru-guru Muatan Lokal dari semua kabupaten/kota yang ada di Riau berdasarkan masing-masing satuan pendidikan baik di tingkat SD, SMP dan SMA.

“TOT yang digelar beberapa hari ini adalah tahap awal, dan merupakan rangkaian pertama dari kegiatan TOT Pembelajaran Mulok Budaya Melayu Riau yang insyaallah akan digelar di awal bulan Juli mendatang. Kita akan mengundang perwakilan dari masing-masing kabupaten/ kota yang ada di Riau guna mengikuti TOT itu nantinya. Tentu saja, harapan kita, setelah selesai mengikuti TOT tersebut, perwakilan ini yang akan menjadi tutor Mulok BMR di daerahnya masing-masing,” jelas Wakil Rektor I Unilak tersebut dalam sambutan pembukanya.

Dalam kesempatan itu, Dr Junaidi juga menjelaskan upaya-upaya yang dilakukan terkait dengan mata pelajaran Mulok Budaya Melayu Riau adalah merupakan tanggung jawab bersama sebagai anak negeri Riau dalam mengimlementasikan Perda, Pergub terkait dengan Mulok Budaya Melayu Riau. “Jadi, ini menjadi tugas dan tanggung jawab kita bersama, sinergitas antara pihak yang terkait harus terus terjalin untuk mewujudkan cita-cita mulia ini. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih kepada PT Riau Pulp and Paper, LAMR, dan juga pemerintah Provinsi Riau atas kerjasamanya,” jelas Junaidi.

Sementara itu, Deputi Dirktur   Sosial Capital PT. RAPP, Wan Jack, menyebutkan, inilah salah satu langkah yang nyata dilakukan oleh pihaknya untuk sama-sama mendukung dan menyongsong Visi Misi Riau 2020 untuk menjadikan bumi Lancang Kuning ini sebagai pusat kebudayaan Melayu di bentangan Asia Tenggara. “Lebih lagi, sektor pendidikan menjadi sangat penting untuk kembali menanamkan pengetahuan tentang khazanah lokal konten yang dimiliki di daerah Riau ini kepada generasi hari ini agar kelestarian budaya yang kaya di negeri ini tetap terjaga, “ ujarnya tegas.

Disebutkannya juga, upaya-upaya berupa fasilitasi kegiatan serupa ini terus diberikan kepada pihak-pihak yang memang benar-benar memerlukan dan menunjukkan itikad kerja yang nyata guna membangun negeri ini bersama-sama. “Kami dari pihak perusahaan telah sejak lama bertekad untuk tidak akan menjadi orang asing di negeri ini, tetapi berkehendak untuk bersama-sama membangun negeri kita ini dan kami sangat mengapresiasi sekali kegiatan TOT Pembelajaran Mulok Budaya Melayu Riau ini,,” ujar Wan Jack yang hadir bersama rekan-rekan kerjanya, Martius Erwanto, BR Binahidra L, T. Kaspandiar, Efianto dan Syafri Edi.

Sementara itu, Ketua Kerapatan Adat Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), Datuk Seri Al Azhar menyebutkan Hal yang tak dapat disangkal lagi, bahwa pewarisan nilai-nilai budaya Melayu Riau harus dilakukan melalui jenjang pendidikan formal, ini kesadaran yang harus dibangun. Agar generasi hari ini dan masa hadapan, terus berbuat dalam kehidupannya dengan tetap menjaga tuntunan alam, tidak kehilangan jati diri. “Sebab kehilangan jati diri akan mengakibatkan manusia kehilangan pegangan, tak heran kemudian akan memancing pertelagahan dalam lingkungan sosialnya,” ujar Al Azhar.  

Diakuinya juga, bahwa perubahan demi perubahan tentu saja sangat diperlukan untuk menyiasati perubahan zaman, dan sesungguhnya itulah hakikat budaya, ianya tidak berhenti pada satu titik. Namun demikian, perubahan yang terjadi, alangkah baiknya tidak terlepas dari hakikat dan identitas yang telah dimiliki oleh suatu masyarakat.

“Di depan kenyataan yang membimbangkan di kurun kesejagatan, para pakar mengatakan ada dua pilihan sikap, pertama pulang ke asal atau going nativist atau yang kedua glocalization. Dari keduanya, maksud dari pembelajaran Budaya Melayu Riau memilih yang kedua yaitu menjadi warga global yang teguh berpegang pada nilai-nilai setempat, dan berkarya mewarnai serta mempengaruhi dunia, “tutup Al Azhar tegas.