A g e n d a /FIB Unilak
  STATISTIK /FIB Unilak
  • Dikunjungi oleh : 359458 user
  • IP address : 54.92.148.165
  • OS : Unknown Platform
  • Browser :
  • Beranda
  • Sastra Melayu FIB Raih 4 Penghargaan di Ajang Sarasehan Nusantara 2017
Sastra Melayu FIB Raih 4 Penghargaan di Ajang Sarasehan Nusantara 2017

Rabu,26 April 2017

Kali pertama ikut berpartisipasi, Prodi Sastra Melayu FIB Unilak raih 4 penghargaan di ajang Sarasehan Nusantara 2017 yang ditaja oleh Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah se-Indonesia (IMBASADI) di Universitas Padjadjaran Jatinangor Bandung. Atas prestasi yang diraih itu, menempatkan Prodi Sastra Melayu di posisi juara umum ke-2 dari 12 kampus yang ikut berpartisipasi.

Adapun beberapa prestasi yang diraih, diantaranya juara 2 lomba baca puisi. Muhammad Aidil sebagai perwakilan membacakan sebuah sajak yang berjudul “Yang Tertulis adalah Rupa yang Gelap”. Selanjutnya, juara 2 lomba Aksara Kaligrafi yang diwakili Sabri Firdaus dengan mengusung tema “Esa Hilang Dua terbilang”, yang tak kalah membanggakan adalah prestasi yang diraih oleh Yessy Fransisca dengan terpilihnya beliau sebagai Putri IMBASADI tahun 2017, selain itu, atas nama Muhammad Syukri, meraih juara harapan dalam lomba pidato bahasa daerah yang diberi judul “Anggung”.

Sekretaris Jurusan Sastra Melayu FIB Unilak, IIk Dayanti menyebutkan, prestasi yang diraih adalah berkat kerjasama dari berbagai pihak yang turut mendukung keberangkatan dan keikutsertaan mahasiswa di acara Sarasehan Nusantara 2017 yang sudah digelar. Selain itu, semangat mahasiswa itu sendiri yang patut juga dihargai selain dari upaya-upaya yang dilakukan bersama untuk memajukan Prodi Sastra Melayu FIB Unilak.

Senada dengan itu, Dekan FIB Unilak, Hermansyah mengekspresikan kegembiraan karena prestasi yang diraih adalah sebuah kebanggaan bersama di keluarga bersar Faklutas Ilmu Budaya sekaligus Universitas Lancang Kuning. “Ini tentu saja sebuah prestasi yang menggembirakan, saya sangat apresaisi atas prestasi yang diraih. Namun saya berharap ini bukanlah sebuah akhir tetapi teruslah berbuat karena pekerjaan seni budaya tidak mengenal batas akhir,” jawab Hermansyah yang juga merupakan penyair Riau tersebut.