A g e n d a /FIB Unilak
  STATISTIK /FIB Unilak
  • Dikunjungi oleh : 256911 user
  • IP address : 54.225.16.10
  • OS : Unknown Platform
  • Browser :
  • Beranda
  • Usulkan Pantun Jadi Warisan Dunia
Usulkan Pantun Jadi Warisan Dunia

Selasa,31 Januari 2017

Melihat perkembangan pantun dari zaman ke zaman, posisi pantun yang tetap kuat dari masa ke masa yang di dalamnya mencerminkan kebudayaan berkaum dan berbangsa, maka, pantun (yang tidak hanya) milik Riau diusulkan pemerintah Indonesia agar bisa diakui menjadi warisan dunia. Tentu dengan banyak alasan. Tentu dengan banyak sebab dan manfaat. Tentu juga dengan kajian-kajian mendalam yang dimulai dengan sejarah awal munculnya pantun beribu tahun silam hingga saat ini; ketika dunia kian mengawang di alam maya.

Budayawan Riau, Al azhar, membeberkan alasan mengapa pantun Riau harus disepekati untuk diusulkan sebagai warisan dunia melalui UNESCO akhir tahun lalu. Tulisan Al Azhar itu: pakar sastra Melayu seperti Harun Mat Piah (1989) dan Ding Choo Ming (2010) memperkirakan pantun sudah dikenal sejak lebih 1500 tahun yang lalu, sebelum kedatangan Hindu di alam Melayu. Menilik keberadaannya dalam ritual-ritual magis yang masih menggunakan simbol-simbol animistik, pantun pada awalnya sangat mungkin digunakan sebagai bagian dari cara berkomunikasi dengan alam gaib untuk mengelola hubungan harmonis manusia dengan alam semesta. 

Misalnya, pada ritual pengobatan Bulian/Belian (Suku Talak Mamak dan Petalangan), Dikei (Suku Sakai), Bedewo (Suku Bonai). Susunan bahasa dari kata-kata magis (monto/mantra, jampi, dan serapah) yang ‘dinyanyikan’ sambil ‘menari’ oleh kemantan (bomo atau dukun yang memimpin upacara), sebagian besar adalah berbentuk pantun. Demikian pula susunan bahasa dalam upacara-upacara daur hidup (rite de passage) dan mata pencaharian masyarakat Melayu tradisional.

Dari ritual-magis, pantun kemudian berkembang memasuki ruang komunal (seperti acara-acara adat). Bersama gurindam dan pepatah-petitih, pantun menjadikan acara-acara komunal itu sebagai panggung kepiawaian berbahasa kias (figuratif) orang-orang Melayu sampai ke masa kini. Selanjutnya, pantun menjalar ke wilayah popular, dalam berbagai ekspresi estetis (seperti dalam nyanyian/lirik lagu), dan pernyataan-pernyataan emosi lainnya dalam pergaulan antar-individu sehari-hari.

Berasal dari kelisanan primer (primary orality), pantun kemudian masuk ke dalam peradaban tertulis (naskah/manuskrip dan cetak) serta elektronik/digital. Dalam tradisi naskah Melayu, misalnya, pantun tampil ‘menghiasi’ sejumlah kisahan historiografi Melayu. Dalam satu episode Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu) yang diperkirakan ditulis pada abad ke-18, misalnya, kita menyaksikan sang narator mengungkapkan empatinya pada bentuk kematian seorang tokoh yang dikisahkannya, dengan pantun:

Telur itik dari Senggora
Pandan terletak dilangkahi
Darahnya titik di Singapura
Badannya terhantar ke Langkawi


Pada tahun 1860-an, seorang pujangga dari lingkaran Penyengat (Kerajaan Riau-Lingga) bernama Haji Ibrahim, menyusun sebuah buku yang seluruhnya berisi pantun (terbit 1870-an dengan judul Pantoen2 Melajoe – Pantun-pantun Melayu). Pantun juga menjadi bahan ajar sejumlah buku pelajaran Bahasa Melayu di era kolonial. Selanjutnya, pantun diperkenalkan ke dunia ilmiah antara lain oleh William Marsden (1812; A Dictionary and Grammar of the Malayan Language ), dan H.C. Klinkert (1868; De Pantoens of Minnezangen der Maleiers – Pantun-pantun atau  Nyanyian-nyanyian Orang Melayu). Kemudian, pantun juga dikaji dan ditelaah oleh para pakar dunia, di antaranya Van Ophuijsen, R. J. Wilkinson, R. O. Winstedt, Hoesin Djajadiningrat, Muhammad Haji Salleh, Harun Mat Piah, dan lain-lain.

Renward Bransetter (dalam Tusiran Suseno, 2008) menyebutkan “pantun” berkaitan kata-kata, sopan dan teratur. Secara etimologi, dalam bahasa Melayu, kata tun dapat diartikan arah, pelihara dan bimbing, seperti ditunjukkan oleh kata tunjuk dan tuntun. Berdasarkan pendapat ini, kata “pantun” merujuk pada pengertian pemakaian bahasa yang sopan, santun, beretika, teratur dan tersusun. Dalam masyarakat Melayu-Minangkabau, pantun dikatakan berasal dari ‘panuntun’ (penuntun). Dengan demikian, pantun dapat dimaknai sebagai sepasang bahasa terikat yang dapat memberi arah, petunjuk, tuntunan dan bimbingan. 

Penamaan ‘pantun’ tersebar di berbagai wilayah berbahasa Melayu di seluruh nusantara, seperti di sebagian besar Sumatera, sebagian Kalimantan, sebagian Kepulauan Maluku, dll. (Indonesia), di Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand Selatan, dan Filipina Selatan. Bentuk pantun juga terdapat di sejumlah suku bangsa lain di nusantara, dengan penamaan setempat, seperti di Bima (disebut Patu Mbojo), Sulawesi Tenggara (disebut Kabanti/Kabachi), Bugis-Makasar (elong, bati’-bati’), Batak (umpasa), Mandailing (ende ende), Sunda (Paparikan dan Sisindiran), Jawa (Parik-an), dll. 

Di Riau, kata “pantun” juga dilekatkan pada beberapa genre seni lisan Melayu, seperti Kayat Pantun (Rantau Kuantan, yang liriknya terdiri dari pantun-pantun), dan Pantun Atu-i (‘pantun seratus’ di Kampar, Rokan, dan lain-lain, yaitu dendang kisahan yang dibangun dari rangkaian seratus pantun ). Di dalam genre Koba Melayu Rokan, penamaan pantun misalnya muncul dalam bagian-bagian penceritaan, misalnya: 

Sudah naik Selamat ke anjung tinggi 
Anjung tinggi Cemala Ganti
Sudah berjumpa dengan si Kembang Cina
Dengarlah kecikak pantun dan gurindam mereka di sana. 


Penyebutan ini menunjukkan kata ‘pantun’ sebagai genre seni bahasa yang berdiri sendiri. Namun dalam tradisi lisan, kata ‘pantun’ tidak langsung disebutkan, melainkan secara implisit menjadi struktur inti pembentuk tradisi lisan tersebut. Dalam menumbai (ritual mengambil madu dari sarang lebah di pohon yang disebut sialang atau tualang), misalnya, gugusan mantra yang didendangkan untuk membujuk lebah agar tidak menyengat juagan (juragan; pengambil madu dari sarang lebah di dahan sialang), hampir seluruhnya berstruktur ‘pantun’. 

Pada masa lalu, pantun tersebar ke seluruh wilayah yang kini disebut sebagai negara-negara serumpun, hingga ke Madagaskar dan Afrika Selatan. Selain di alam Melayu, bentuk yang menyerupai pantun juga dikenal di Tiongkok (disebut Syi Cing), di Spanyol (disebut Copla), dan di Jepang, Iran, serta Jerman, sebagaimana dijelaskan Prampolini dalam Liaw Yock Fang (1993). Kaitan historis antara bentuk Syi Cing dan Copla masih memerlukan penelitian yang lebih mendalam.

Namun, sub-genre sastra yang disebut pantoum di dalam kebudayaan Prancis dan Inggris jelas berasal dari pantun! Orang Inggris dan Prancis mengenal pantun dari buku William Marsden berjudul A Dictionary and Grammar of the Malayan Language (1812); di dalamnya dimuat beberapa pantun berkait. Pantun itu mengilhami pengarang masyhur Prancis, Victor Hugo (26 Februari 1802 – 22 Mei 1885) menerbitkan versi Prancis terjemahan Ernest Founiet atau pantun berkait dari buku Marsden tersebut (tanpa rima) untuk catatannya atas buku Les Orientales (1829). Sejak itu, beberapa penyair Prancis berusaha menciptakan pantoums (pantun-pantun) mereka sendiri. Penyair Leconte de Lisle (22 Oktober 1818 – 17 Juli 1894), misalnya, menerbitkan 5 pantoum dalam bukunya yang berjudul Poème tragiques (1884). 

Kemudian, sebuah puisi terkenal karya pengarang dan filsuf masyhur abad ke-19 Prancis lainnya, Charles Baudelaire (9 April 1821 – 31 Agustus 1867), berjudul “Harmonie du Soir” juga dianggap bersumber dan menggunakan puitika pantoum. Oleh karena persebaran yang luas itu, pantun sepatutnya dianggap sebagai warisan budaya kolektif yang melampaui batas-batas negara dan budaya.
 


Kondisi Saat Ini

Secara historis, pantun hidup dan berkembang dalam tiga gejala budaya masyarakat Nusantara, yaitu lisan primer (primary orality), tulisan (naskah/manuskrip dan cetak), serta lisan sekunder (secondary orality, media elektronik dan digital). Sebagai warisan budaya lisan primer, pantun semakin langka seiring makin ditinggalkannya praktik-praktik ritual purba di tengah-tengah masyarakat Nusantara, derasnya penetrasi pengetahuan modern, dan perubahan drastis ekologi fisik yang menyagang kehidupan ritual-ritual tersebut. 

Dalam acara-acara adat, pantun-pantun yang digunakan para pemangku adat, tidak hanya merupakan retorika khas dalam rangkaian sebuah prosesi, tetapi juga menjadi media untuk merawat ingatan komunitas pada leluhur, alam, nilai, norma, dan hukum serta aturan-aturan adat itu sendiri. Bersama peminggiran peranan adat dan para pemangkunya dalam kenyataan masa kini Nusantara, tradisi dan penciptaan pantun untuk acara-acara adat terancam punah. 

Beberapa kegiatan ekonomi tradisional Nusantara juga merupakan sarang pantun. Di Riau, misalnya, dikenal pantun-pantun mantra menangkap ikan, menumbai, timang padi, timang enau (agar air nira/enau untuk dijadikan gula menjadi lebih banyak), pantun-pantun sindiran dan kasih sayang dalam batobo (bergotong-royong mengerjakan sawah/ladang). Pantun-pantun dalam kegiatan ekonomi tradisional Melayu ini terancam punah, terutama karena kerusakan ekologi (sungai dan danau tercemar limbah, hutan dan pohon sialang ditebang untuk dijadikan kebun kelapa sawit dan akasia, ruang kehidupan tradisional menyempit karena konsesi-konsesi yang diberikan negara kepada perusahaan-perusahaan).

Sebagai ekspresi khusus individu, seperti dalam kegiatan ibu menidurkan anak (dodoi anak, baghandu, onduo, nandung, dll.), pantun-pantun yang didendangkan secara tematik adalah nasihat-nasihat kebaikan (tunjuk ajar), harapan-harapan, perasaan kasih sayang, cinta, dan kerinduan. Rangsangan penciptaan pantun dalam kegiatan pengasuhan anak ini berkurang, karena di masa kini kebanyakan orang tua lebih seiring menggunakan media-media baru (tape recorder, televisi, dan gadget) untuk melengahkan anaknya menjelang dan ketika tidur. Potensi pantun dan pewarisan keterampilan (bersama nilai-nilai yang dikandungnya) pun terancam punah.
 
Dalam budaya tulis, pantun hadir sekurang-kurangnya dalam jenis: (a) hiasan dalam kisahan-kisahan Melayu masa lampau, manuskrip dan kemudian cetak; (b) buku-buku kumpulan pantun, baik yang dikarang sendiri oleh penulisnya, maupun yang bersifat dokumentasi atas pantun-pantun popular; (c) pantun-pantun yang menghiasi surat-surat pribadi (antar keluarga dan sahabat yang tinggal berjauhan, antara dua kekasih, dsb.); (d) pantun-pantun yang ditulis untuk hiasan pidato, dsb. 

Di masa kini, pantun-pantun yang menghiasi kisahan, sudah hampir tidak pernah dibuat lagi; demikian pula pantun-pantun dalam surat-surat pribadi. Keduanya, dalam kepengarangan masa kini, cenderung dianggap sebagai ciri ‘masa lampau’, yang oleh karena itu terkesan seperti dijauhi. Sementara itu, meskipun tidak terlalu berkembang, buku-buku pantun masih diterbitkan. Namun, sebagian besar buku-buku itu bukanlah pantun-pantun karya individu (seperti kumpulan pantun Haji Ibrahim), melainkan hasil pengumpulan pantun-pantun yang terserak dalam berbagai tradisi lisan warisan. Dengan demikian, penciptaan pantun secara tertulis dari jenis (a), (b), dan (c) tidak dapat dikatakan berkembang.

Berbeda dengan pantun-pantun untuk hiasan retorik dalam pidato-pidato. Sejak tahun 1980-an, di pusat-pusat alam Melayu (seperti di Kepulauan Riau, Riau, dan Kalimantan Barat), para pejabat cukup biasa memasukkan bait-bait pantun di dalam teks pidato mereka. Pada umumnya, bait-bait pantun itu disajikan di bagian awal dan akhir pidato; namun tidak jarang pula ditempatkan pada bagian tengah teks. Berkembangnya gejala ini di Indonesia diduga berhubungan dengan politik identitas yang sejak pertengahan tahun 1970-an didorong oleh pemerintah Indonesia, dalam bentuk kegiatan-kegiatan inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan ‘daerah’. Setelah reformasi 1998, yang diikuti dengan kebijakan otonomi daerah, pemerintah dan masyarakat di kawasan-kawasan berbudaya Melayu di seluruh Indonesia menyuburkan kegiatan-kegiatan penemuan (kembali) identitas lokal mereka; dan pantun adalah di antara simbol identitas lokal yang terjaring dalam kegiatan-kegiatan tersebut.

Dalam konteks simbol identitas itu, pantun tertulis dibawa ke dalam berbagai kegiatan seremonial pemerintah, dipelajari di sekolah-sekolah sebagai muatan lokal, dilombakan (berbalas pantun, atau jual-beli pantun), dijadikan semboyan kota (misalnya, semboyan “Kota Gurindam Negeri Pantun” untuk Kota Tanjungpinang Kepulauan Riau), dan dirayakan melalui kegiatan-kegiatan massal (seperti pemecahan rekor MURI untuk jumlah orang berpantun, yang dilakukan di Tanjungpinang). 

Di dalam dunia digital dan media sosial, pantun dari gejala budaya kelisanan sekunder (secondary orality) pertama-tama berkembang melalui lagu-lagu popular Melayu, baik di Indonesia, Malaysia, Singapura, maupun di Brunei Darussalam. Lirik (seni-kata) lagu-lagu diva Melayu popular masa kini, seperti Siti Nurhaliza (Malaysia) dan Iyeth Bustami (Indonesia), secara kualitatif memenuhi puitika, etika, dan estetika pantun. Lagu-lagu popular Melayu yang menggunakan pantun ini dapat dianggap sebagai kesinambungan tradisi pantun, dengan alur perkembangan: dari pantun-pantun spontan (lisan) untuk lirik lagu-lagu pertunjukan joget, dondang sayang, langgam, zapin, ghazal, dan lain-lain, masuk ke dunia tulis penciptaan lirik lagu-lagu popular yang dikekalkan melalui teknologi rekaman, dirayakan oleh media elektronik (radio dan televisi) dan dunia digital masa kini.

Selain itu, pantun juga mudah ditemukan di dalam media-media sosial, antara lain dengan adanya grup-grup pantun online. Pelajaran kemahiran berpantun melalui media online juga diwujudkan, misalnya oleh Pusat Bahasa Melayu Kementerian Pendidikan Singapura. Menjelang hari-hari besar (Islam), pantun menjadi pilihan popular untuk mengirimkan ucapan-ucapan kepada kaum kerabat, sahabat, dan handai-tolan melalui fasilitas media-media sosial.

Di samping dunia digital, di masa kini pantun juga berkembang melalui media luar ruang (spanduk, baliho, poster, LED, dsb.). Baju-baju kaos dengan ilustrasi pantun juga mulai banyak dijual. Akhir-akhir ini, perusahaan penerbangan Citilink pun menggunakan bait-bait pantun untuk menyapa penumpangnya, di awal dan di akhir penerbangan. Program-program hiburan di televisi juga sering menampilkan pantun. Koran Riau yang terbit di Pekanbaru juga sejak bertahun-tahun yang lalu selalu menampilkan pantun di halaman depannya. Semuanya itu memperlihatkan peningkatan popularitas pantun di tengah-tengah kehidupan masyarakat masa kini.

Namun, perkembangan tersebut tidak selalu positif bagi kelestarian pantun itu sendiri. Sebagian besar penggunaan pantun dalam media televisi, media sosial, media luar ruang, dan dunia penerbangan cenderung artifisial, cenderung hanya mengejar persamaan bunyi akhir (rima akhir ab-ab) saja. Rima akhir hanyalah salah satu unsur pembentuk pantun. rohnya terdapat dalam kesebatian yang utuh dari unsur-unsur teknis (sampiran-isi, jumlah kata dan suku-kata, rima, dan sebagainya.), logis, dan etis. 

Pantun dapat ditakrifkan sebagai puisi yang terdiri atas empat baris sebait, yang sekurang-kurangnya bersajak akhir a-b-a-b. Setiap baris pantun yang baik terdiri atas 4-5 kata bersuku-kata 8-12, mengandung sebuah sketsa kecil yang menyatu membangun suatu kesatuan utuh dan bulat dari segi bentuk, musik, serta makna. Dua baris pertama disebut sampiran (pembayang), secara tersurat tidak memiliki hubungan semantik dengan dua baris berikutnya yang disebut isi (maksud).

Menyerupai teka-teki, sampiran menegakkan tonggak-tonggak perhatian dalam pikiran dan imajinasi khalayak, untuk kemudian secara mengejut dialihkan kepada isi/maksud atau pesan yang ingin disampaikan. Meskipun berfungsi sebagai pengalih perhatian, kata-kata dalam sampiran pantun yang dianggap baik tidak bersifat acak, tetapi mencitrakan keluasan pengetahuan dan pengalaman, serta kedalaman kearifan manusia dan masyarakat Nusantara. Melalui sampiran, khalayak dibawa memasuki semesta kehidupan Nusantara: alam sekitar beserta keragaman flora dan faunanya, relung-relung peristiwa dan sejarah yang dialami, adat-istiadat, dan kebiasaan-kebiasaannya. 

Pantun yang dianggap baik ialah yang korespondensi bunyi (dan segala aspek musikalitasnya), maupun sintaks antara sampiran dengan isinya seimbang dan setimbang. Atau, menurut Muhammad Haji Salleh (2006), dua baris sampiran dapat diibaratkan bagai bercermin di depan dua baris isi; seperti dua bagian kertas yang dilipat, kata-kata, irama, dan bentuknya akan bertemu secara rapi. Dengan demikian, secara filosofis, pantun menganjungkan keseimbangan, keselarasan, dan keserasian. 

Sumbangan bagi Kebudayaan Dunia

Sebagai warisan budaya, pantun memberi sumbangan yang amat berarti terhadap kesinambungan kebudayaan Nusantara di dalam arus deras kesejagatan masa kini. Pesan-pesan tersurat dalam keseluruhan kata, baris, dan bait-bait pantun bersumber dari nilai-nilai luhur yang hidup di tengah-tengah masyarakat, dan pengucapannya sekaligus mengingatkan khalayak terhadap nilai-nilai tersebut. Di tengah-tengah khalayaknya (masyarakat Nusantara), pantun menyegarkan kesadaran nilai, dan dengan itu pantun dapat dianggap sebagai cermin sekaligus pengawal keberadaan nilai dan penerapannya dalam budaya Nusantara. 

Secara nasional, pantun memberi sumbangan yang berharga pada kenyataan kekayaan dan keragaman khasanah budaya bangsa. Dari nilai-nilai kesantunan dan kearifan yang dianjungkannya, pantun mengkonfirmasi kekhasan budaya nasional Indonesia yang ramah dan terbuka. Pantun juga menyumbang terhadap kehalusan bahasa nasional (Bahasa Indonesia) dan praktik-praktik pemakaiannya. Di era dunia tanpa batas ini, setiap bangsa akan memperkuat identitas budayanya masing-masing, yang prosesnya disebut glokalisasi. Dalam konteks ini, pantun merupakan salah satu modal budaya penting bagi Indonesia untuk mengembangkan glokalitas tersebut.

Dalam lingkup dunia, keberadaan warisan pantun memberi sumbangan terhadap kesadaran pentingnya hubungan harmonis, baik secara vertikal (antara manusia dengan  Sang Pencipta), maupun horisontal (antara sesama manusia dan manusia dengan alam). Pantun merayakan keseimbangan ekosistem, di mana alam adalah guru yang mengajarkan kearifan, bukan obyek eksploitasi keekonomian (seperti sekarang) yang bertumpu pada pemenuhan keinginan tanpa batas manusia. Khasanah warisan budaya pantun bisa menjadi suara penyeimbang (counter voices) terhadap dominasi antroposentrik dan praktik-praktik eksploitatif terhadap alam yang sedang berlangsung sekarang. Sejak berabad-abad lampau orang-orang di Nusantara menganjurkan agar manusia berguru kepada alam. Mungkin sekarang saatnya Nusantara menyerukan kepada dunia: berguru kepada pantun.

‘‘Warisan budaya pantun dimiliki oleh komunitas luas di Nusantara yang sekarang tersebar dalam sejumlah negara. Ia merupakan warisan milik bersama. Sebagai milik bersama, agenda-agenda yang dikongsi untuk memulihkan kewajaran kehidupan pantun meniscayakan komunikasi yang intensif. Pantun itu sendiri lahir dari dialog mendalam antara manusia dengan lingkungan luas alam dan manusia serta masyarakat berbilang kaum dan bangsa, sesuai dengan sifat terbuka yang dirayakan di Alam Melayu. Oleh karena itu, dipelopori oleh Indonesia (melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan), pantun disepakati untuk diajukan ke UNESCO sebagai warisan budaya bersama (joint nomination) negara-negara serumpun,’’ beber Al azhar.

Sumber: Riaupos.