A g e n d a /FIB Unilak
  STATISTIK /FIB Unilak
  • Dikunjungi oleh : 224205 user
  • IP address : 54.80.234.9
  • OS : Unknown Platform
  • Browser :
  • Beranda
  • Jemaah Puisi Menolak Korupsi Kunjungi FIB Unilak
Jemaah Puisi Menolak Korupsi Kunjungi FIB Unilak

Minggu,11 Desember 2016

 

“Satu hati tolak korupsi…satu hati tolak korupsi” kalimat tersebut terus saja dipekikkan di halaman Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning Pekanbaru-Riau. Secara silih berganti, kalimat itu juga diteriakkan oleh puluhan penyair yang datang dari berbagai provinsi di Indonesia ini. Di hadapan mahasiswa FIB Unilak yang turut pula memekikkan kalimat tersebut, menunjukkan adanya kesepakatan dalam upaya bersama dalam memberantas korupsi di Indonesia.

 

Demikian sekilas suasana kunjungan jemaah Puisi Menolak Korupsi (PMK) ke Fakultas Ilmu Budaya Unilak pada Jumat sore (9/12) lalu. Di hadapan para hadirin, mahasiswa-mahasiswi, dosen dan juga para penyair, Koordinator Gerakan PMK, penyair Sosiawan Leak dengan sangat antusiasnya menjelaskan prihal PMK dan juga memberikan gambaran dan penjelasan terkait dengan upaya bersama dalam memberantas korupsi.

Katanya, puisi sebagai anak kandung kebudayaan tidak serta merta bisa merubah keadaan menjadi lebih baik. Tetapi sastra (puisi),  sebagaimana agama dan filsafat berada di wilayah pencegahan yang lebih berfungsi guna mempengaruhi pikiran dan keyakinan hingga melahirkan sikap penolakan atas perlakuan korupsi yang menggila di negeri ini.

Sebuah gerakan perlu digagas. Oleh karenanya, penyair Indonesia dalam menyikapi dan mencermati fenomena korupsi yang belakangan makin merebak di masyarakat, membuat sebauh gerakan yang diberi nama Puisi Menolak Korupsi (PMK). PMK ini sudah demikian getolnya mengkampanyekan menolak korupsi. 

 

Gerakan PMK sejak kelahirannya, kata Sosiawan Leak lebih jauh,  telah mencoba memiliki dua alat perjuangan yakni penerbitan dan road show. Keduanya telah berjalan dengan baik, dalam arti mandiri, kreatif, dan intensif dalam jadwal yang ketat. Ke depan perlu dihadirkan alat perjuangan lainnya untuk lebih mengintensifkan dan memperluas gerakan antikorupsi ini. “Kerjasama dengan individu, komunitas, lembaga dan pihak-pihak berbasik lain namun mempunyai kosentrasi yang kuat terhadap gerakan antikorupsi perlu dilakukan  dengan membangun jejaring antikorupsi lintas sektoral, disiplin, dan  profess lainnya,” jelasnya.

Bagaimanapun, korupsi harus ditolak. Suara-suara penolakan harus terus bergema, juga melalui puisi. Dengan begitu puisi menjadi teks perlawanan terhadap korupsi. Puisi menjadi senjata anti korupsi. “Tujuan roadshow ini menelurkan teks-teks perlawanan. Teks sebuah puisi bisa menjadi perlawawan terhadap korupsi. Karena kita harus yakin bahwa kata-kata adalah senjata,” jelasnya lagi.

 

Selaku koordinator, penyair asal Solo, Sosiawan Leak mengatakan gerakan PMK mengambil posisi sebagai gerakan kultural untuk melengkapi gerakan lainnya yang dilakukan sejumlah unsur dari berbagai lapisan masyarakat. Gerakan ini tentu saja menjadi media dan sarana bagi penyair untuk menyatakan sikap tegas menolak nilai-nilai kehidupan yang korup. Semua orang dari berbagai kalangan berhak untuk menolak korupsi di mana tindak korup merupakan sebuah perbuatan yang dapat merugikan masyarakat dan negara. Hal itu juga tertera dalam perundangan, Pasal 1 angka 3 UU no 30 tahun 2002 tentang KPK yang mempertegas keterlibatan masyarakat di dalam pemberantasan korupsi. “Namun realitas menunjukkan bahwa puisi tidak bisa digunakan untuk melawan secara langsung apalagi untuk menghakimi atau memvonis karena puisi tidak berada dalam wilayah penindakan layaknya instansi yang berkompetensi seperti kepolisian, kehakiman dan KPK. Tetapi puisi berada di wilayah pencegahan,” terang Sosiawan.

 

Bagaimanapun, korupsi harus ditolak. Suara-suara penolakan harus terus bergema, juga melalui puisi. Dengan begitu puisi menjadi teks perlawanan terhadap korupsi. Puisi menjadi senjata anti korupsi. Korupsi telah merusak kebudayaan. Sedangkan puisi, menjadi benteng terakhir yang bisa menyelamatkan kebudayaan. Seandainya Komisi Pemberantasan Korupsi dan aparat hukum lainnya tidak mampu memberantas korupsi, maka puisi yang akan menjadi benteng terakhir yang menanamkan jiwa-jiwa anti korupsi pada generasi mendatang.

Jadi, memang gerakan PMK merupakan gerakan simbolik melawan korupsi dengan membangun KPK dalam hati. Hal itu disampaikan Wakil Rektor I Unilak, Dr. Junaidi yang juga hadir. Katanya korupsi menjadi musuh utama bagi bangsa ini sehingga sudah seharusnya untuk diperangi. Daya rusak tindak korup sangat kuat meski telah dilakukan perlawanan dengan berbagai pendekatan seperti hukum dan politik.

 

“PMK menurut saya merupakan perang simbolik yang dilakukan oleh para penyair Indonesia dengan cara menulis puisi menolak korupsi, ini tentu saja memberi kontribusi dalam membangun semangat anti korupsi dalam diri bangsa kita. Perang ini tentu saja tidak menggunakan kekuatan fisik, hukum dan politik tetapi dilakukan dengan cara membangkitkan jiwa dan kesadaran bangsa Indonesia untuk menolak korupsi karena dalam setiap jiwa manusia sebenarnya ada potensi korup itu,” jelas Junaidi.

 

Sementara itu, menurut Dekan FIB Unilak, Hermansyah, yang juga merupakan sastrawan Riau itu, mengatakan PMK sebetulnya membicarakan negeri ini secara keseluruhan seperti misalnya penyakit masyarakat, penguasa, birokrat, guru, dosen, tentara, hakim, polisi, agamawan, penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan. Kalaulah Road Show PMK ini terus menerus bergelora, baik itu di kota-kota, desa-desa, sekolah-sekolah, kampus-kampus, di rumah-rumah ibadah sehingga pada akhirnya menjadi gerakan budaya yang massiv, “maka paling tidak persepsi perilaku korup sebagai sebuah kejahatan yang dapat merubuhkan sebuah bangsa, dapat dibangun dan tentu saja dengan demikian dukungan moral untuk KPK dan aparat penegak hukum lainnya akan pula memuluskan bangsa ini menjadi bangsa yang lebih bermarwah,” ujarnya.

 

Kedatangan dan kunjungan PMK yang ke dua kalinya di FIB Unilak tentu saja disambut baik oleh pihak kampus. Kegiatan yang patut pula diapresaisi, terang Hermansyah alias Herman Rante.. 

 

"Kami sangat mengapresiasi nya. Dengan kehadiran 25 penyair dari timur sampai barat Indonesia, khusus ke FIB Unilak, dapat pula mahasiswa mengapresiasi puisi anti korupsi dan mudah-mudahan ada kajian yang dilahirkan oleh dosen dan mahasiswa terkait puisi menolak korupsi ini," ujarnya.

Kunjungan PMK korupsi di FIB juga merupakan rangkaian memperingati Hari Anti Korupsi  Internasional  (HAKI). Secara bergiliran para penyair membacakan sajak demi sajaknya di hadapan para mahasiswa. Di halaman teduh, yang sudah didekor sedemikian rupa menjadi saksi, pekik demi pekik, teriakan yang menggema, tepuk tangan dan juga sajak-sajak yang dibacakan, adalah perwakilan dan simbol suara-suara penolakan, satu hati dalam menolak korupsi.

Namun tentu saja, ada secercah harapan dari generasi muda. Pelan-pelan generasi penerus bisa dididik antikorupsi. Salah satu upaya yang nyata dilakukan PMK adalah roadshow seperti yang dilakukan. Dengan demikian, bisa menjadi bagian penanaman jiwa antikorupsi terhadap generasi muda karena bagaimana pun, peran mahasiswa sangat penting dalam berjuang memberantas korupsi.