A g e n d a /FIB Unilak
  STATISTIK /FIB Unilak
  • Dikunjungi oleh : 348505 user
  • IP address : 34.207.82.217
  • OS : Unknown Platform
  • Browser :
  • Beranda
  • Tabuh Kompang Siak Rekor Muri
Tabuh Kompang Siak Rekor Muri

Selasa,01 November 2016

Sebanyak 2.676 penabuh kompang di Siak pecahkan rekor MURI. Mereka yang menabuh adalah anak-anak sekolah asal Kabupaten Siak, mulai dari SD, SMP dan SMA. Tabuhan menggema di lapangan Tugu, depan Istana Siak, Jalan Sultan Syarif Qasim, Siak, Riau, Selasa (18/10/2016).

Rekokr MURI itu disaksikan pula oleh ribuan masyarakat. Museum Rekor Indonesia (MURI) menyerahkan penghargaan dan buku catatan rekor kepada Bupati Siak, Syamsuar yang ketika itu disaksikan oleh Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman.

Pemecahan rekor MURI tersebut terselenggara dalam rangka pembukaan iven tahunan Tour de Siak yang diikuti oleh beberapa negara tetangga.

Pelestarian nilai-nilai budaya seperti kompang ini terus dilakukan. Permainan alat musik pukul ini, di sebagian tempat, hanya dikuasai oleh orang-orang tua. Tapi di sebagian tempat, ianya dimainkan dengan bebas oleh siapa saja: orangtua, anak-anak, kaum lelaki maupun perempuan. Di Kabupaten Siak Sri Indrapura, misalnya. Kompang di kota ini semakin berdengung. Semakin ditabuh dan riuh. Diajarkan tiada henti kepada anak-anak sekolah. Serentak. Meriah. Hingga mampu memecahkan rekor MURI tahun ini.

Kompang adalah salah salah satu alat musik tradisional Melayu.  Kompang termasuk alat musik gendang; dipukul mengeluarkan bunyi. Biasanya terbuat dari kulit kambing betina. Tapi, sekarang banyak juga dibuat dari kulit lembu dan kerbau. Ada juga getah sintetik. Semakin bervariasi. Tapi tetap dipukul dengan tangan untukmenghasilkan bunti. Tetap banyak jumlahnya agar tetap bergemuruh bunyinya.

Kompang terdiri dari dua bagian. Bagian kulit disebut muka dan bagian badan antara keduanya perlu alat penegang dari rotan yang disebut sedak. Dengan sedak bunyi kompang akan lebih sedap didengar. Sebelum memainkan alat musik ini, pemain kompang agar terlebih dulu memperhatikan apakah bunyi kompang sudah merdu atau belum dengan memperkuat sedak tersebut.

kononnya, alat musik ini awalnya berasal dari Arab. Masuk ke tanah Melayu dipercayai pada masa kesultanan Melaka oleh pedagang India Muslim atau melalui jawa pada abad 13 oleh pedagang Arab.

‘’Yang baru boleh datang. Tapi yang lama jangan ditinggalkan. Kompang harus dilestarikan. Sebagai kebudayaan Melayu, khazanah negeri ini harus senantiasa dijaga. Tidak boleh putus generasi. Anak-anak juga harus belajar kompang. Agar lebih abadi, kita sematkan melalui rekor MURI,’’ kata Bupati Siak, Syamsuar.

Komitmen pemerintah seperti ini sangat mendukung agar kompang tetap terjaga keberadaannya. Sudah pasti, pengrajinnya semakin mendapat tempat untuk terus membuat kompang itu terdengar bunyinya.


‘’Tidak hanya untuk pertumbuhan ekonomi para pengrajin kompang, yang lebih penting bagaimana anak-anak kita saat ini tidak asing dengan kopang. Sekarang zaman modern, alat musik serba modern, ditambah informasi global yang luar biasa. Kalau tidak diajarkan, anak-anak tidak tahu lagi apa itu kompang. Kalau tidak, bisa putus generasi. Ini yang tidak kita mahu. Harus dijaga, harus dilestarikan dengan berbagai upaya,’’ sambung Syamsuar.