A g e n d a /FIB Unilak
  STATISTIK /FIB Unilak
  • Dikunjungi oleh : 348580 user
  • IP address : 34.207.82.217
  • OS : Unknown Platform
  • Browser :
  • Beranda
  • Dekan FIB, Baca Puisi di Puncak Perayaan HPI
Dekan FIB, Baca Puisi di Puncak Perayaan HPI

Selasa,02 Agustus 2016

 

Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unilak, Herman Rante didaulat untuk membacakan sajak di malam puncak perayaan Hari Puisi Indonesia.  Herman membacakan sajak mantra karya Ibrahim Sattah di acara yang berlangsung di Gedung Anjung Seni Idrus Tintin,malam Ahad (30/7) itu.

Di malam puncak sekaligus malam penutupan itu digelar parade puisi dari penyair jemputan yang datang dari luar daerah dan juga luar negara. Herman Rante didaulat untuk mewakili penyair Riau lainnya dalam helat yang ditaja Komunitas Rumah Sunting bersama lembaga serta komunitas seni lainnya tersebut.

Di malam puncak itu, HPI tampaknya tidak hanya dirayakan oleh para penyair. Hal itu terbukti dari para pengunjung yang memenuhi tribun, juga  terlihat dari berbagai kalangan, baik siswa, mahasiswa dan juga dari umum. Mereka menjadi saksi atas kata-kata azimat yang diteriakkan penyair di atas panggung yang sudah didekorasi sedemikian rupa sekaligus menjadi saksi betapa pentingnya puisi bagi bangsa ini.

Karena sebagaimana yang disampaikan oleh kritikus terkemuka Indonesia, Maman S Mahayana. Katanya, siapa yang berkhianat pada puisi maka ia juga berkhianat kepada para leluhur. Puisi sesungguhnya bagian dari aspek penting dalam membentuk negara Republik Indonesia ini.

" Jadi, jangan pernah berkhianat pada puisi karena Indonesia ini ada, bermula dari puisi yaitu Sumpah Pemuda. Begitu pentingnya posisi puisi bagi bangsa ini, puisi sesungguhnya sudah menyelusup dalam kehidupan sehari-hari. Para leluhur bangsa ini sudah menempatkan puisi sejak awal menjadi bagian dari awal terbentuknya Indonesia. Makanya, di beberapa negara besar, Hari Puisi dirayakan sudah sejak lama karena mereka sadar, roh kebudayaan itu berada pada puisi," ujar Maman S Mahayana yang juga berkesempatan hadir di malam puncak perayaan HPI tahun ke empat itu.

Sementara itu, selaku penggagas, Rida K Liamsi menyebutkan pelaksanaan HPI tahun ke empat sudah menunjukkan bahwa semangat puisi itu hidup dan berkembang terutama di Riau. Semuanya berkat panitia pelaksana yang setia menjaga semangat puisi itu dari tahun ke tahun sejak dideklarasikan 2012 lalu.

"Deklarasi itu dilaksanakan di Pekanbaru-Riau. Untuk itulah kita  yang harus menjaga semangat hari puisi itu, terutama saya harapkan kepada anak-anak muda," ujar budayawan Riau itu.

Di tingkat Nasional, bersama dengan penyair Indonesia lainnya, juga sudah menyiapkan struktur untuk tetap menjaga perayaan HPI, yakni dengan mendirikan Yayasan Hqri Puisi. Dan kata Rida, yayasan inilah yang akan tetap menjaga dan menaja kegiatan-kegiatan sebagai simbol "gong" dari HPI tersebut.

"Bahkan di Riau, saya  sempat berbincang dengan Wakil Rektor Universitas Lancang Kuning, Dr Junaidi agar kampus yang satu-satunya memiliki Fakuktas Ilmu Budaya di Riau itu menyelenggarakan Olimpiade Puisi Nasional agar kita punya lagi kekuatan lainnya dalam memasyarakatkan puisi. Merayakan HPI ini sebagai tanda memberi rasa hormat kepada penyair, menghargai para penyair-penyair Indonesia. Bahwa kita semua adalah puisi itu sendiri," ujar Rida lagi.

Parade baca puisi mantra enam negara  malam itu dimulai dengan pembacaan oleh Herman Rante (Riau), Leeyoun (Korea Selatan), Ramayani Riance (Jambi), Syarifudin Arifin (Sumbar), Zuliana Ibrahim (Aceh), Eva Susanti (Medan), Irwanto Hpd (Kepri), Jhodi Yudono (Jakarta), Narudin (Jabar), Nik Mansour (Vietnam), dan Anie Din (Singapura) dan diramaikan juga penyair-penyair Riau lainnya.

Usai parade baca puisi dengan berbagai ekspresi dari para penyair enam negara, semua hadirin yang hadir menyaksikan pelepasan lampion puisi yang digelar di Laman Bujang Matsyam, Purna MTQ Pekanbaru. Sebanyak 10 lampion dilepaskan oleh para penyair. Maka terbang tinggilah lampion menuju ke awan malam, kelap-kelip cahaya tampak sejauh mata memandang. Begitulah puisi, lahir dari kesayupan lubuk hati menjelma jadi renungan, doa dan harapan.