A g e n d a /FIB Unilak
  STATISTIK /FIB Unilak
  • Dikunjungi oleh : 359423 user
  • IP address : 54.92.148.165
  • OS : Unknown Platform
  • Browser :
Menyambut Cahaya Besar

Selasa,02 Agustus 2016

Menyambut pekan terakhir di bulan Ramadan atau nujuh likur, masyarakat yang bermukim di kawasan pesisir Riau umumnya, menggelar tradisi colok mulai dari tanggal 27 Ramadan hingga malam takbiran.

Tradisi ini terjaga sejak zaman berzaman. Diteruskan oleh masyarakat sebagai ekspresi kegembiraan menyambut Syawal dan sekaligus rasa sayang dalam melepaskan bulan Ramadhan. Di beberapa tempat, tradisi di malam-malam terakhir Ramadhan itu menjadi salah satu agenda wisata Riau bahkan tiap tahun diperlombakan oleh pemerintah daerah.

Dalam menyemarakkan menyambut Malam Tujuh Likur itu, ditandai dengan membuat colok. Colok itu sendiri dibuat dari kaleng dan botol minuman bekas dan menggunakan sumbu. Tetapi sebenarnya colok itu sama dengan pelita. Perbedaannya tidak ada, hanya penyebutannya saja. Artinya, pelita yang dinyalakan di malam 27 likur itu disebut oleh masyarakat Melayu terutama di bagian pesisir Riau dengan sebutan colok, penyebutannya mnejadi khusus oleh karena adanya tradisi 27 likur tersebut. Tidak hanya itu, disiapkan juga gapura di setiap simpang jalan. Colok yang jumlahnya sangat banyak itu ditempatkan di gapura yang telah didekor sedemikian rupa.

Dengan berbagai kreatifitas para generasi muda setempat, motif gapura tersebut, biasanya mengambarkan bangunan masjid atau kaligrafi Alquran. Selain itu, colok juga ditempatkan di sepanjang pinggiran jalan, digantungkan pada tali kawat yang melintang di atas badan jalan. Tidak ketinggalan meriahnya, di tiap-tiap rumah warga pun turut dipasang colok. Jadilah malam ke 27 Ramadhan itu, seisi kampung diterangi ribuan cahaya keemasan dari lampu-lampu colok.

Malam pun kian seronok, karena di antara kemeriahan tersebut, masyarakat pun turut meramaikan. Keindahan lampu colok yang dihiasi ini digemari oleh warga setempat dengan keluar rumah dan berkeliling kampung. Berbagai bentuk kreatifitas hiasan colok tersebut menjadi tontonan menarik pula untuk diapresiasi. Anak-anak, remaja dan juga orang tua, beramai-ramai menyaksikan pesta cahaya yang diselenggarakan sampai ke malam Takbiran.

Disebutkan Ketua LAM Kabupaten Kepuluan Meranti, H Ridwan bahwa tradisi ini memang sudah semenjak dahulu terjaga dengan baik. Seingatnya, tradisi ini sudah berlangsung sejak zaman Jepang. Orang-Orang Melayu menggelar tradisi ini dahulunya untuk mengkespresikan kegembiraan dalam menyambut Syawal.

“Jadi kebahagian itulah yang nak diluahkan masyarakat. Dulu tidak ada main mercun macam sekarang ini. Rasa bahagia untuk menyambut hari mulia dengan cara membuat kampung menjadi terang benderang, jadi orang-orang dahulu bersuka rialah mereka dengan cara seperti itu,” ujar H Ridwan.

Tradisi itu juga dahulunya disebutkan Ridwan tidak hanya memiliki nilai tradisi tetapi juga mempunyai nilai ibadah. Lampu-lampu colok yang dipasangkan di tiap-tiap rumah warga menjadi penerang bagi orang tua yang hendak beritikaf di penghujung bulan Ramadhan.”Jadi sejalan ke duanya. Anak-anak main lampu colok, orang tua pergi itiqaf,” jelas Ridwan.

Festival Lampu colok yang digelar setiap tahunnya di beberapa daerah, mengunggulkan ciri khas kreativitas kedaerahan masing-masing.  Tradisi itu terjaga dengan baik samapi hari ini juga diiringi dengan berbagai keyakinan setempat.  

Budayawan asal Bengkalis, Syaukani al Karim memandang tradisi 27 likur dalam beberapa sudut pandang. Ianya terlestarikan dengan baik karena bagi sebagian masyarakat menganggap 27 Ramdhan itu sebagai penanda dari babak akhir di bulan suci Ramadhan,  dari prosesi amal yang dilakuan selama bulan Ramadhan, puasa, tarawih, nuzul quran dan lainnya. “Jadi nujuh likur menjadi penanda dari babak akhir. Ianya jelma menjadi bentuk kegembiraan masyarakat Melayu,” jelas penyair Riau tersebut.

Dalam pandangan umum, tradisi itu juga disebutkan untuk penerangan karena ketika dulu yang namanya kampung gelap. Oleh karenanya diadakan penerangan agar dapat untuk mempersiapkan segala persiapan hari raya sekaligus untuk beribadah di penghujung malam di minggu terakhir bulan Ramadhan.

Selain itu, tradisi nujuh likur juga kental dengan nilai-nilai moral dan spiritual. Lampu colok seharusnya mengingatkan bahwa Ramadan segera berakhir, maka sebagai umat Islam hendaknya lebih meningkatkan ibadah kepada Allah SWT. Terlebih pada malam ganjil karena pada malam itulah diyakini masyarakat datangnya lailatul qodar.

Oleh karenanya, tradisi itu menjadi simbol. Dalam artian ketika diyakini bahwa penghujung Ramadhan tepatnya ketika umat Islam menanti atau menunggu datangnya lailatur qadar. Kata Syaukani colok menjadi simbol bagi masyarakat Melayu bahwa mereka memiliki cahaya kecil untuk menyambut cahaya besar. “Bahwa dalam diri mereka sudah ada cahaya kecil untuk menyambut cahaya besar yakni lailatur qadar,” jelasnya.

Sehinngga pecahayaan dari lampu colok dulunya, dipasang juga di setiap rumah-rumah ibadah sampai di perigi atau kolam tempat mengambil air sembahyang. Begitu juga di tiap-tiap rumah, lampu colok dipasang sampai di belakang rumah dan perigi tempat mengambil air wudhu.

Tradisi ini bagi sebagian masyarakat Melayu juga berkeyakinan dalam rangka memberikan penerangan bagi roh orang terkasih yang sudah meninggal. Kononnya diyakini, pada penghujung Ramadhan itulah, roh-roh orang yang sudah meninggal kembali ke rumah masing-masing. Hal itu menurut Heriyanto Hady sangat diyakini masyarakat di kampungya, di Sungai Apit.

“Makanya dulu, colok itu dipasang di sekeliling rumah bahkan sampai ke lorong-lorong jalan terdekat. Pokoknya, tiap-tiap rumah terang benderang. Ada semacam kesedihan dan kegembiraan yang  bercampur haduk di malam 27 likur tersebut,” jelas Sekretaris DKR tersebut.

Masing masing ada adat dan resam sendiri dalam menyemarakkan malam 27 Ramadhan atau tujuh likur. Di Pelalawan misalnya, tepatnya di desa Rantau Baru. Masyarakat di desa yang dulunya dikenal dengan sebutan Melako Kecil itu pada malam tujuh likur menyemerakkannya dengan tradisi sajadah atau bahasa tempatannya sejoda.

Tradisi ini dijelaskan sastrawan asal Pelalawan, Griven H Putra adalah tradisi yang juga masih terjaga sampai hari ini. Pada malam ke 27 Ramadhan itu masyarakat akan membuat penerangan dengan cara membakar tempurung.

tempurung yang dikumpulkan dilubangkan tengahnya kemudian disangkutkan di tiang kayu yang kettinggiannya kira-kira 2 meter. “Jadi kita tidak memasang colok tapi disebut dengan sejoda atau tempurung itu tadi,” ujarnya.

Sejoda itulah kemudian dipasang di tiap-tiap rumah selain obor. Dipasang juga di jalan-jalan dan di rumah-rumah ibadah karena sebagaimana keyakinan masyarakat di beberapa daerah Riau lainnya, pada malam ke 27 Ramadhan itu juga diyakini malam datangnya lailatur qadar.

Pada malam itulah sebagian masyarakat melakukan aktivitas beribadah hingga sampai menjelang sahur bahkan tidak tidur. Kemeriahan dan kegembiraan menyambut datangnya malam seribu bulan itu disemarakkan dengan cahaya. Orang-orang yang melakukan ibadahpun  menjadi mudah karena penerangan tersebut. “Jadi orang-orang ada yang tidak tidur untuk beribadah, dengan adanya penerangan tersebut menjadi mudah untuk mengambil air sembahyang di sungai, misalnya,” jelas Griven.

Disebutkannya juga, arang-arang dari tempurung yang sudah dibakar itu juga berguna pula bagi masyarakat dulunya untuk bahan menyetrika baju. Jadi tidak ada yang mumbazir. “Itu bagi masyarakat dahulu yang menyetrika pakaian menggunakan alat setrika yang masih konvensional,” tutup Griven.

Berbagai tradisi menyambut Malam Tujuh Likur di Riau sampai hari ini akan diteruskan oleh orang-orang  yang tahu menghargai adat resam Melayu supaya tidak hilang ditelan zaman.
 

sumber: Riaupos