A g e n d a /FIB Unilak
  STATISTIK /FIB Unilak
  • Dikunjungi oleh : 359387 user
  • IP address : 54.92.148.165
  • OS : Unknown Platform
  • Browser :
  • Beranda
  • Kunjungan Budaya FIB Unilak Ke Rupat Utara
Kunjungan Budaya FIB Unilak Ke Rupat Utara

Jumat,27 Mei 2016

 

Laporan Fajar Hardi

Kamis 12-15 Mei 2016, Mahasiswa/siswi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Lancang Kuning, mengadakan kunjungan ke sebuah desa yang berada di Kabupaten Bengkalis tepatnya di Rupat Utara. Kunjungan itu juga sekaligus untuk memperkenalkan Universitas Lancang Kuning, khususnya Jurusan Sastra Daerah (Melayu), Ilmu Perpustakaan, Sastra Indonesia dan Sastra Inggris.

Pagi itu Pukul: 08.00 WIB Mahasiswa/siswi mulai dari Jurusan Sastra Daerah (Melayu), Ilmu Perpustakaan, Sastra Indonesia dan Sastra Inggris. Berangkat menggunakan 5 buah Bus dengan jumlah mahasiswa yang ikut sebanyak 119 orang. Antusias dari Mahasiswa/siswi FIB terlihat dengan kesibukan dan kesigapan mereka dalam mengurus sesuatunya, demi kesuksesan dan kelancaran perjalanan dan seluruh progrram yang sudah disusun.  Kegiatan ini tentunya tidak terlepas dari dukungan para Dosen FIB yang mendampingi mereka hingga sampai ke tujuan.

Perjalanan menuju Dumai, dengan melakukan penyeberangan menggunakan kapal roro. Dalam perjalanan menuju Rupat Utara di dalam bus, berbagai macam hal dilakukan mahasiswa mengatasi kejenuhan mereka selama perjalanan. Ada yang berpuisi, bernyanyi, berdiskusi,dan lain-lain. Tak luput pula dari penglihatan, mahasiswa/siswi yang mabuk dalam perjalanan. 12 jam menuju Rupat Utara dari Pekanbaru. Perjalanan yang sangat melelahkan. Berangkat mulai Pukul 09.00 WIB (pagi) sampai di Rupat Utara Pukul 21.00 WIB (malam).

Pada 13 mei 2016 pagi itu Jum’at pukul 05.00 WIB, mahasiswa/siswi dibangunkan dengan suara terompet sangkakala, padahal bunyi tersebut berasal dari Toa. Namun, Mahasiswa/siswi lebih mengenalnya dengan bunyi terompet sangkakala. Di bunyikan Toa tersebut agar mahasiswa/siswi segera bersiap-siap untuk melakukan perjalanan menuju sekolah-sekolah demi melaksanakan kegiatan pengenalan di sekolah tersebut atau mengadakan seminar kecil.

Setelah berkumpul pagi itu dan menerima nasi kotak yang dibagikan oleh Ketua Tim Kerja dari masing-masing Kelompok. Mahasiswa bergegas masuk ke dalam bus. Plakat, spanduk telah disiapkan serta oleh-oleh untuk sekolah yang dikunjungi. Sesampainya di sekolah dosen dan kepala sekolah membuka pembicaraan. Setelah semuanya selesai mahasiswa/siswi melanjutkan tugas mereka perkelompok seperti mencari Ketua LAM setempat dan sebagainya.

Hingga Pukul 12.00 Mahasiswa bersiap untuk menunaikan sholat Jum’at di mesjid desa Teluk Rhu, sedangkan Mahasiswi menikmati pantai hingga selesainya mahasiswa dari kewajiban untuk akhirat.

Pukul 20.00 WIB, acara lomba pembacaan puisi dan lain-lain pun dimulai. Para dosen yang menjadi juri serta mahasiswa yang berkompeten dalam penilaian di jadikan sebagai juri. Setelah acara selesai mahasiswa/siswi balik ke asal, karena esok mereka bahu membahu membersihkan pantai Teluk Rhu sampai bersih.

Pada 14 mei 2016, hari terakhir mahasiswa/siswi berada di pulau Rupat Utara. Besok pagi sekali mereka harus berangkat menuju pekanbaru. Dan berpisah dengan warga setempat. Mahasiswi yang telah siap siaga melaksanakan pembersihan lokasi pantai sangat antusias.

Sesampainya di Teluk Rhu, mahasiswa/siswi sarapan dulu, sebelum mereka beraktifitas. Setelah sarapan mereka bertempur membersihkan area lokasi yang ditentukan oleh dosen pembimbing. Pembersihan area lokasi memakan waktu hingga pukul 11.00.

Setelah itu mahasiswa/siswi yang belum sempat wawancara dengan Ketua LAM setempat. Mereka melakukan wawancara eksklusif di rumah bapak tersebut. Yang terletak di Teluk Rhu pinggir pantai yang adem. Beberapa mahasiswa/siswi yang sudah wawancara menunggu di pantai sambil berenang ria. Karena setelah selesai semuanya seluruh mahasiswa berangkat lagi menuju Pantai Lepin, yang terletak di Desa Lapin.

Ketika waktu sudah menunjukan pukul 14.00, seluruh mahasiswa/siswi berangkat menuju Pantai Lepin, pantai terakhir yang menjadi tujuan mahasiswa/siswi. Rasa penat terlampiaskan karena di pantai Lepin seluruhnya bersuka ria. Berenang, bernyanyi, foto-foto tentunya dan lain-lain.

Pada malam harinya, sekitar pukul 20.00 WIB, acara seni buday akembali digelar. Acara berlangsung hingga pukul 23.00. Setelah usai semua seluruh mahasiswa membantu benahi seluruh peralatan. Dan kembali ke karantina karena esok harus kembali ke Pekanbaru.

Selayang Pandang Tentang Rupat Utara

Pulau Rupat Utara Desa Tanjung Medang, Kabupaten Bengkalis yang merupakan bagian luar dari Provinsi Riau, karena letaknya yang dibatasi Selat Melaka. Dekat dengan Malaysia. Memiliki pesona pantai yang memanjang. Kecamatan Rupat berada di selatan Pulau Rupat dan memiliki 10 desa yaitu, Makeruh, Batu Panjang, Hutan Panjang, Pangkalan Nyirih, Pergam, Sei Cingam, Sukarjo Mesim, Tanjung Kapal, Terkul, dan Teluk Lecah. Dan beberapa desa lainnya.

Berbagai nama Pantai sesuai dengan Desa masing-masing, seperti Pantai Lepin, Pantai Teluk Rhu, dan Pantai Punak. Garis besar mata pencaharian dari penduduk masyarakat disana adalah Nelayan. Ada juga masyarakat disana membudidayakan Burung Walet. Sangat banyak. Mata uang yang digunakan masyarakat Rupat Utara masih menggunakan Rupiah, tapi ada juga yang menggunakan mata uang Malaysia.

Tapi masyarakat Rupat Utara desa Tanjung Medang, lebih sering belanja ke negara Malaysia ketimbang belanja di negara sendiri atau lebih tepatnya di daerah sendiri. “kami kalau nak belanje, tak payahlah. Pergi je ke Malaya tu. Masyarakat sini belanje selalu kesane, dekat lagi.” Ujar bapak tua selaku masyarakat yang sering berbelanja keperluan sehari-hari disana.

Bukan disitu saja, masyarakat Rupat Utara juga mengadopsi tayangan luar negeri. Hanya menggunakan parabola saja siaran dari negeri jiran sana mereka dapatkan. Sedangkan untuk mendapatkan siaran nasional, mereka harus merogoh kocek yang lebih dalam lagi untuk membeli antena khusus.

Jadi tak salah kalau masyarakat sana lebih dominan ke negara tetangga.mulai dari hiburan acara Televisi, Radio, berita dan lain-lain.

Tradisi yang ada di Rupat Utara, menjelang Ramadhan adalah Mandi Safar, bukan bersama sama mandi campur baur antara lelaki dan perempuan tapi dipisahkan. Kemudian Tari Zapin Api yang ada di Rupat Utara sangat terkenal, itu sama dengan Tari Rentak Bulian. Seperti tari pengobatan

Cerita Rakyat yang ada di Rupat Utara lebih terkenal dengan “Pusara Puteri Sembilan” cerita yang sangat terkenal di kalangan masyarakat Rupat Utara. Pernikahan yang ada di masyarakat Rupat Utara sama dengan masyarakat Melayu Pesisir lainnya. Pertumbuhan bangunan atau disebut dengan Arsitek Melayu yang terdapat di daerah tersebut sudah tidak ada lagi yang menggunakan selembayung atau yang lainnya. Karena perubahan mendasar desa Rupat Utara adalah pengaruh modernisasi.

Selembayung tidak ada di temukan pada rumah-rumah, selembayung hanya dapat di temukan di kantor dinas dan rumah adat atau kantor LAM. Untuk dialek masyarakat Rupat Utara tidak jauh berbeda dengan dialek Melayu Pesisir kebanyakan. Seperti halnya Bengkalis, Dumai, Siak, Meranti.

Disisi lain ada juga masyarakat Rupat Utara menggunakan dialek Melayu Inggris terletak di Desa makru, sebab dahulunya para pedagang dari luar mempengaruhi masyarakat sekitar. Sedangkan Suku Akit, menggunakan dielek Melayu pesisir dengan akhiran O, tapi kebanyakan Suku Akit dipengaruhi oleh orang Tionghoa yang menjadi bagian dari mereka.