A g e n d a /FIB Unilak
  STATISTIK /FIB Unilak
  • Dikunjungi oleh : 382616 user
  • IP address : 3.233.239.102
  • OS : Unknown Platform
  • Browser :
Dari Riau Memaknai Gerak

Selasa,10 Mei 2016

Merayakan Hari Tari Dunia

Tari juga merupakan bahasa universal. Dalam setiap liuk lentuk dan lenggangnya mampu membahasakan fenomena sosial yang terjadi.

Memperingati Hari Tari Dunia di Riau, tak hanya meriah dalam merayakannya, tetapi juga bagaimana membangun kesadaran untuk memaknai gerak sebagai bahasa penyampaiannya. Sebagaimana yang disampaikan salah seorang koroegrafer senior Riau, SPN Iwan Irawan Permadi.

Katanya, tari bukanlah hal ihwal yang terkait dengan gerak indah semata. Tarian juga merupakan ekspresi dan representasi kehidupan yang mereka jalani. Berbagai permasalahan manusia yang terjadi, diekspersikan melalui gerak sebagai media. “Dan tubuhlah sebagai poros utamanya,” ujar Iwan Irawan.

Menari di Tengah Sawah

Perayaan Hari Tari Dunia di Riau, memang ditandai beberapa hari sebelum tanggal ditetapkan oleh UNESCO (29 April) sejak tahun 1982. Seperti halnya yang digelar beberapa seniman di Kabupaten Kepulauan Meranti. Perayaan Hari Tari Dunia 2016, digelar di tengah-tengah sawah. Digagas oleh Sanggar Bathin Galang, perayaan itu dilangsungkan di Parit Nibung Desa Sendaur, Rangsang Barat pada Jumat (29/4).

Dijelaskan Sopandi selaku pimpinan sanggar, kegiatan menari di tengah sawah memang sudah dirancang beberapa hari sebelumnya. Pilihan lokasi tersebut dikarenakan  sanggar Bathin Galang mengusung tema Menjunjung Bumi, Membumikan Tari.

Tarian yang dibawakan diberi tajuk Kutanam Mimpi. Tersirat makna di dalamnya, bumi dengan segala limpahan keberkahan merupakan tempat manusia hidup. Mimpi dan harapan adalah kekuatan untuk bertahan. keduanya didapat dan dilakukan tidak dengan diam tetapi dengan “gerak” yakni gerak kehidupan. Al hasil, para penari pun akhirnya menari diantara hamparan padi. Lenggang-lenggok gerak berpadu pula dengan musik yang menengkahnya.

 Senyum, bahagia dan semangat terpancar dari para penari yang mengenakan kostum kebaya Melayu. Sorak-sorai pemusik turut pula mewarnai perayaan, menyemarakkan helat yang digelar jauh ke ceruk kampung.

“Memang tidak banyak pengisi acara selain dari anggota sanggar Bathin Galang karena kegiatan ini atas kesadaran kami saja, tidak ada sponsor. Hanya berkat spirit kebersamaan dengan kawan-kawan seniman lainnya. Paling tidak, kami juga hendak turut serta dalam meramaikan perayaan Hari Tari Dunia. Mencoba memaknai gerak dengan cara kami,. ” ujar Sopandi.

Beralaskan Budaya Melayu

Perayaan Hari Tari Dunia juga diselenggarakan oleh UPT Museum dan Taman Budaya Provinsi Riau pada Jumat malamnya (29/4). Dapatlah disebutkan, perayaan malam itu sebagai malam puncak perayaan Hari Tari Dunia di Riau. Dapat dilihat misalnya, tak kurang dari 20 komunitas seni tari yang ambil bagian di perayaan yang digelar di panggung terbuka Taman Budaya tersebut. Bahkan beberapa sanggar dari provinsi lain pun turut serta seperti Aceh dan Sumbar.

Semangat dalam merayakan Tari Tari Dunia malam itu tak surut meskipun sempat diguyur hujan. Bahkan dalam rintik gerimis, tari demi tari dari penyaji tetap diapresiasi dengan baik oleh pengunjung yang memenuhi laman di Taman Budaya tersebut. Hadir dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Pendidikan, H Dr Kamsol, Konsul Malaysia, Hardi Hamdi, Budayawan Taufik Ikram Jamil, Iwan Irawan Permadi, Kepala Museum dan Taman Budaya, Sri Mekka serta para seniman-seniman Riau lainnya.

Selaras dengan tujuan awal ditetapkan Hari Tari Dunia yakni untuk menarik perhatian publik terhadap seni tari, terutamanya khalayak yang jarang bersentuhan dengan tari. Dan memperkenalkan berbagai macam tari yang menarik yang ada di muka bumi ini, maka tujuan UPT Museum dan Taman Budaya juga demikian. Sebagaimana yang dijelaskan Sri Mekka.

Katanya, Taman Budaya sleain sebagai wadah untuk mengembangkan kesenian yang ada di Riau ini juga sekaligus sebagai wadah mempergelarkan karya-karya seni ke hadapan masyarakat. Dalam kesempatan itulah sempena perayaan Hari Tari Dunia, digelar berbagai macam jenis tari-tarian baik dari komunitas yang ada di Pekanbaru, daerah dan juga di luar provinsi Riau.

“Sejak sore sudah kita tandai perayaan ini dengan memperagakan berbagai bentuk seni. Hinggalah malam ini dapat disaksikan puluhan sanggar tari yang menampilkan karya tari mereka sesuai dengan konsep dan tema yang mereka usung. Dan ini jugalah kesempatan bagi kita semua untuk dapat memperlihatkan betapa kayanya khazanah kesenian tari kita terutama tradisi,” ujar Sri Mekka.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kamsol dalam kesempatan itu sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan. Ke semua upaya yang dilakukan dinilainya sangat selaras dengan visi dan misi Riau 2020 untuk menjadikan Riau sebagai pusat ekonomi dan kebudayaan di bentangan Asia Tenggara. Bahkan dalam bincang-bincangnya dengan konsul Malaysia, tercetus ide untuk melaksanakan kegiatan yang bisa menghadirkan seni budaya Riau-Indonesia dan Malaysia.

Perayaan Hari Tari Dunia malam itu kemudian lebih terasa bermakna pula ketika orasi budaya yang disampaikan oleh budayawan Taufik Ikram Jamil. Dengan menghimpun data-data masa lalu seperti nilai dan filosofi yang terkandung dalam kisah Rumi semasa hidupnya, kisah sejarah Hang Tuah dan Hang Jebat, Mak Semah di Siak. Dengan pembacaan orasi yang khas itulah kemudian Taufik Ikram Jamil menyimpulkan bahwa gerak adalah suatu aktivitas yang semula jadi.