A g e n d a /FIB Unilak
  STATISTIK /FIB Unilak
  • Dikunjungi oleh : 382613 user
  • IP address : 3.233.239.102
  • OS : Unknown Platform
  • Browser :
  • Beranda
  • Haul Setahun Tenas Effendy
Haul Setahun Tenas Effendy

Rabu,02 Maret 2016

“Sang Penjaga Melayu”

Setahun yang lalu, tepatnya 28 Febuari 2015, salah seorang tokoh yang selama ini dikenal sebagai sosok yang santun, arif bijaksana, sabar dan seluruh keluhuran orang Melayu, Tenas Effendy telah berpulang ke Rahmatullah. Namun serakan gagasan intelektual akan senantiasa ditelusuri sepanjang masa.

Lewat buah karyanya dalam bentuk petatah-petitih, tunjuk ajar yang telah dibukukan, ratusan makalah, lukisan, ukiran dan lainnya tak akan lekang ditelan zaman. Dengan semua yang dihasilkan, segala kearifan yang pernah digali, dihimpun semasa hidupnya itulah, sang Melayu sejati ini akan dikenang.

Dan berbagai karya-karya intelektual itu pula, almarhum Tenas Effendy mewariskan kepada semua agar terus melanjutkan pekerjaannya dalam menjadikan Melayu dan kebudayaanya sebagai sesuatu yang bermarwah.

Dalam dua minggu belakangan ini, Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, bersama dengan instansi lainnya, menggelar sebuah helat besar dalam mengenang Almarhum Tenas Effendy. Hampir sebulan penuh, diadakan bermacam ragam mulai dari pameran karya buku Tenas Effendy, peresmian bilik Melayu Tenas Effendy, seminar dan kolokium, dialog interaktif dan pentas teater atas karya almarhum.

Memang tak dapat diragukan lagi, terbukti nyata dari karya yang dihasilkan, bahwa kebolehan Tenas Effendy membaca peristiwa kebudayaan. Terutama kepekaannya dalam menggali, menangkap pesan, makna dan nilai-nilai ke-Melayuan itu yang kemudian direkam dalam mindanya. Nilai-nilai luhur, tunjuk ajar, petatah-petitih dan kesemua warisan Melayu dituangkan ke karya-karyanya dalam bentuk buku dan kitab tunjuk ajar Melayu.    

Kepiawannya itu menurut cerita Ketua Harian Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau memang diperoleh dari Ayahanda Tenas Effendi, Tengku Said Muhammad Aljuri yang merupakan sekretaris pribadi Sultan Said Hasyim, Sultan Pelalawan ke-8 waktu itu. Ayahnyalah yang selalu menulis mengenai semua silsilah Kerajaan Pelalawan, adat-istiadat, dan peristiwa penting lainnya dalam sebuah buku yang dinamakan Buku Gajah.

Bagi Al Azhar, almarhum bagi adalah sosok yang peduli pada pelestarian yang berkesinambungan dengan semangat pendidikan. Tennas merupakan penyampai pesan bagi peradaban. Almarhum diibaratkan sebagai telaga luas yang airnya mengahapus dahaga pengetahuan, membangkitkan semangat untuk kembali berjuang mengembalikan segala yang pernah hilang. Membangkitkan semangat untuk membangun kejayaan baru, peradaban baru dari yang pernah runtuh.

Sedangkan dalam proses kreatif yang dijalani almarhum semasa hidup, telah dihasilkan sekitar 127 buku yang terdata, ratusan makalah yang telah dibentangkan di sekotah Asia Tenggara. Tenas Effendy hadir sebagai sosok Melayu yang senantiasa risau melihat perkembangan budaya Melayu mutakhir. Dan hampir seutuhnya kemudian Tenas mengambil posisi sebagai pelestari warisan budaya luhur Melayu, terutama di Riau.

Tak heran kemudian, melalui karya-karya Tenas Effendy, dalam perhelatan Mengenang Tenas Effendy ini menjadi perbincangan di berbagai kalangan baik dari Riau, bahkan dari tokoh-tokoh di beberapa negara Asean seperti, Malaysia, Singapura, Brunai Darussalam dalam seminar-seminar yang telah diselenggarakan. Perbincangan itu diteroka dari berbagai perspektif. Bahkan pada Jumat malam (26/2) digelar sebuah dialog yang diberi tajuk Memaknakan Tenas Effendy, Menjemput Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) di Anjung Seni Idrus Tintin. Hadir sebagai pembicara dalam kesempatan itu, Plt Gubernur Riau, Arsyad Juliandi Rachman, Budayawan Malaysia, Zainal Abidin Borhan, Dari Singapura, Mohd Noh Daipi dan eneliti ekonomi dari Indonesia, Bisri Effendi serta Ketua Harian LAM Riau, Al Azhar.