A g e n d a /FIB Unilak
  STATISTIK /FIB Unilak
  • Dikunjungi oleh : 348492 user
  • IP address : 34.207.82.217
  • OS : Unknown Platform
  • Browser :
  • Beranda
  • Peluncuran Buku tersebab daku melayu
Peluncuran Buku tersebab daku melayu

Minggu,30 Agustus 2015

Bicara Melayu, Bicara Kemanusiaan

“Sebetulnya bukan saya yang datang kepada Melayu tetapi Melayulah yang datang kepada saya,” ucap Taufik Ikram Jamil tatkala menceritakan proses kreatifnya di acara peluncuran dan bedah buku kumpulan sajak penggal ke tiga “tersebab daku melayu” pada Rabu (26/8) di ruangan Ismail Suko, gedung Badan Perspustakaan Arsip dan Dokumentasi (BPAD) Provinsi Riau.

Bicara Melayu dalam karya-karya Taufik Ikram Jamil, seperti yang dikatakannya adalah juga bicara manusia dan kemanusiaan. Dari semua karyanya baik berupa kumpulan sajak, cerpen bahkan novel, adalah bicara tentang manusia secara universal. Tetapi karena penulis terlahir di Riau, maka dalam proses kreatifnya tentulah didatangi Melayu.

“Ketika awal saya hijrah dari kampung, saya tinggal di Bengkalis, ketika itu saya tidak pernah berpikir saya ini melayu tetapi ketika saya hijrah ke Pekanbaru, saya mulai merasakan bahwa saya adalah Melayu. Artinya, Melayu itu datang karena saya tinggal di Riau,” kenang penulis.

Kemudian ketika bicara Riau, maka seorang penulis yang konsen dan tunak dengan kemelayuannya itu, mengatakan tatkala Riau disebutkan maka tidak serta merta selesai begitu saja tetapi harus juga berbicara Malaysia, Singapura, Johor, Lingga dan lain sebagainya. Itulah kenapa, pembacaan TIJ sapaan akrabnya itu, terhadap Melayu kemudian tidak pernah selesai, yang kesemuanya adalah upaya untuk mengkaji diri.

Lebih jauh , dijelaskannya juga, ketika tinggal di Riau, sebagai penulis tentu saja kemudian TIJ membaca Riau. Hal itu pula yang menjelaskan bahwa ketika Melayu datang kepadanya, Taufik tidak berpangku tangan begitu saja, tetapi menerima kedatangan Melayu itu secara aktif. Dimisalkannya, ketika diketahui Riau adalah negeri kaya, tapi kenapa banyak ketelantaran, keperihan dan kemiskinan di sana-sini.

“Nah, makanya tentu akan menjadi aneh, kalau orang yang tinggal di Riau, tapi tidak merasakan Melayu. Riau hari ini jelas menyumbang bahasa dan minyak tapi kenapa perih juga yang kita dapatkan? Itulah secara pribadi, sebagai pengarang, Melayu tidak bisa lepas dari karya-karya saya. Tetapi yang terlebih penting lagi, kalau seandainya Melayu tidak identik dengan Islam, maka sudah lama Melayu ini saya tinggalkan,” ucap Taufik Ikram Jamil tegas.

Buku sajak penggal ketiga “tersebab daku melayu” itu sendiri berisikan 46 sajak yang diterbitkan oleh Penerbit Milaz Grafika bekerja sama dengan Dewan Kesenian Provinsi Kepri dan Yayasan Pusaka Riau. Buku penggal pertama berjudul “tersebab haku melayu” (1985), sedangkan penggal ke dua diterbitkan tahun 2010 berjudul “tersebab aku melayu”.

Sementara itu, selaku tuan rumah dari helat yang berlangsung, Kepala Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi, Yoserizal Zen mengatakan sangat apresiasi peluncuran buku dari sastrawan Indonesia asal Riau, Taufik Ikram Jamil. bAh Katanya, BPAD senantiasa membuka ruang bagi kegiatan serupa. “Terlebih lagi, helat atau agenda yang berkaitan dengan konten lokal karena BPAD tidak bisa memungkiri konten lokal harus menjadi perhatian bersama yang tentu saja hal itu akan sangat mendukung dari misi dan visi Riau 2020. Secara pribadi,tentu dengan peluncuran buku karya penyair ternama Taufik Ikram Jamil ini, kita turut bangga. Semoga bermunculan terus hendaknya karya-karya anak negeri,” ucap Yoserizal Zen yang juga merupakan penyair Riau itu.

Dua orang pembicara dihadirkan di acara peluncuran dan bedah buku tersebetu. Diantaranya, penyair senior, Fakhrunnas MA Jabbar dan penyair muda, Cikie Wahab. Diskusi yang berlangsung hampir ke sore itu dimoderatori oleh salah seorang dosen Fakultas Ilmu Budaya, Program Studi Sastra Indonesia, Alvi Puspita.