A g e n d a /FIB Unilak
  STATISTIK /FIB Unilak
  • Dikunjungi oleh : 359457 user
  • IP address : 54.92.148.165
  • OS : Unknown Platform
  • Browser :
  • Beranda
  • Museum Sang Nila Utama, Ada Apa Denganmu?
Museum Sang Nila Utama, Ada Apa Denganmu?

Rabu,29 April 2015

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning terdapat satu jurusan bernama Jurusan Sastra Daerah. Salah satu matakuliah yang diajarkan pada semester dua adalah filologi. Untuk semester genap ini matakuliah tersebut diampu oleh Bu Iik Idayanti.

Salah satu kegiatan perkuliahan yang dilakukan adalah mengajak mahasiswa untuk ‘berkenalan’ langsung dengan naskah. Tidak melulu berbicara tentang teori, maka mahasiswa diajak untuk mengetahui langsung objek yang akan mereka kaji, mengetahui bentuk fisiknya. Lalu, dimanakah tempat yang bisa dituju untuk ‘berjumpa’ dengan ‘si naskah itu’?

Maka, jika mengklikhttp://infopku.com/2014/berkunjung-ke-museum-sang-nila-utama-yuk , kita akan diarahkan ke Museum Sang Nila Utama. Di laman itu diinformasikan bahwa terdapat 3886 koleksi di Sang Nila Utama yang diklasifikasikan ke dalam sepuluh jenis koleksi. Salah satu jenis koleksinya adalah filologika, koleksi yang berhubungan dengan naskah kuno. Selain jumlah koleksi, di laman tersebut juga dituliskan jadwal kunjungan museum bagi pengunjung.

Berikut salinan jadwal kunjungannya :

Selasa – Kamis: 08.00 – 15.30 WIB

Jumat: 08.00 – 11.00 & 14.00 – 16.00

Sabtu dan Minggu: 08.00 – 14.00

Senin & Hari libur nasional: Tutup

Karcis masuk  : Gratis

Berbekalkan info ‘indah’ itu, pagi hari pukul 10.00WIB, 7 April 2015, Buk Iik mengajak mahasiswanya untuk berkunjung ke sana dengan menyertakan surat kunjungan yang di tanda tangani pihak FIB Unilak. Namun, apa yang terjadi?

Rombongan pada awalnya disambut dengan ramah oleh seorang bapak berbaju dinas. Namun,  seorang ibuk yang juga berbaju dinas meminta biaya administrasi museum sebesar Rp. 100.000/rombongan. Setelahnya si Bapak dengan antusias menjelaskan tentang koleksi-koleksi museum. Namun, ketika disampaikan tentang maksud utama hendak melihat naskah, maka bapaknya berubah agak gugup dan panik. Kemudian bapak tersebut menginformasikan kepada Ibu Iik untuk datang langsung ke kantor penjaga naskah yang lokasinya berada di belakang gedung museum utama.

Setelah itu, bapak penjaga pun memilih keluar dan raib entah kemana dan seorang ibuk petugas mengambil alih fungsinya. Ketika ditanya tentang naskah yang berada di ruang museum, ibu penjaga berkelit kalau dia tidak mengetahui apapun tentang naskah, info jelasnya bisa ditanyakan kepada petugas naskahnya. Setelah itu, Ibu penjaga mencoba membantu dengan mencarikan katalog naskah. Tak lama kemudian ia datang sambil berujar,  “Ini katalognya sudah dapat. Saya ambil langsung dari orang naskah dan orang naskahnya marah-marah karena kalian datangnya dadakan. Katalognya juga tinggal satu”.

Sementara itu atas anjuran Bapak penjaga, Buk Iik menuju kantor petugas naskah. Ia memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud kunjungan. Pihak petugas naskah menanyakan surat pengantar. Mereka menyampaikan bahwa prosedurnya mesti menyertakan surat pengantar jauh hari sebelum kunjungan. Dan surat tersebut mesti disetujui dulu oleh Ibuk Kepala yang bernama Ibu Ida. Setelah Buk Ida memberi mandat, barulah petugas akan bertindak. Kebetulan hari itu Buk Ida tidak sedang di tempat. Katanya, ia sedang rapat di kantor gubernur. Buk Iik bertanya sampai pukul berapa ibuknya rapat dan apakah boleh ditunggu? Petugas menjawab rapatnya sampai malam.

Akhirnya, hari itu Buk Iik dan rombongan mahasiswa tidak berhasil mendapat izin untuk melihat koleksi naskah.

Kemudian, tanggal 26 April 2015, Buk Iik kembali  membawa mahasiswa dari kelas berbeda ke Sang Nila Utama. Sesuai prosedur yang disampaikan pihak petugas penjaga naskah pada kunjungan sebelumnya, maka surat pengantar sudah diserahkan oleh mahasiswa pada hari Kamis tanggal 23 April 2015. Tapi, ketika sudah sampai di museum, rombongan tetap tidak bisa melihat koleksi naskah dengan alasan,pertama bahasa suratnya salah. Namun setelah dicek kembali secara bersama dan seksama, tidak ada yang salah pada isi surat tersebut.

Pihak penjaga kemudian meminta maaf namun tetap mencari celah dengan menyalahkan mahasiswa yang mengantarkan surat. Katanya, si pengantar hanya memberitahu bahwa surat itu adalah surat kunjungan biasa, bukan surat kunjungan naskah. Padahal, logikanya, kalau si petugas betul-betul membaca surat maka ia tidak akan perlu melakukan kesalahan ‘level’ itu! Alasan kedua mereka mengatakan Buk Ida tidak sedang berada di Pekanbaru melainkan di Padang. Kunci ruangan dibawa oleh Buk Ida. Buk Iik minta izin untuk diberikan nomor handphone Buk Ida agar bisa berkomunikasi langsung. Tapi petugas tidak bersedia dan memberi saran agar Buk Iik datang esok harinya agar bisa berjumpa langsung. Namun ketika ditanya kembali pukul berapa Buk Ida ada di tempat dan apakah bapak yakin besok Buk Ida ada di museum (tidak sedang rapat), si petugas tidak bisa menjawab dengan tegas. Mereka hanya mengkonfrimasikan agar datang pada jam kerja si Ibuk pada rentang waktu pukul 08.00-11.00.

Sebagaimana kunjungan pertama, kunjungan kedua juga gagal. Koleksi naskah tidak bisa dilihat.

OH……SANG NILA UTAMA ADA APA DENGANMU?!!!!!

Alvi Puspita. Tenaga Pengajar di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Unilak.