A g e n d a /FIB Unilak
  STATISTIK /FIB Unilak
  • Dikunjungi oleh : 359439 user
  • IP address : 54.92.148.165
  • OS : Unknown Platform
  • Browser :
  • Beranda
  • Gelorakan Rasa Nasionalisme dengan Seni Pertunjukan
Gelorakan Rasa Nasionalisme dengan Seni Pertunjukan

Senin,13 April 2015

Menuju 70 tahun kemerdekaan Republik Indonesia tercinta ini, Riau Beraksi Studio Seni Peran kembali membentang sebuah pertunjukan kolaborasi teater, musik dan fotografi yang diberi judul Indonesia Baghandu.

Karya yang dipentaskan selama tiga malam berturut-turut (9-11 April red) di Anjung Seni Idrus Tintin seolah menjadi kado di usia 70 tahun Republik ini. Sebuah karya sebagai ungkapan kesungguhan hati, bahwa semua warga di manapun berada, di kota, di kampung, diceruk-ceruk belahan Indonesia adalah bagian dari Indonesia hari ini, dan nanti.

Pentas yang berdurasi sekitar satu setengah jam itu membeberkan berbagai fenomena sosial yang terjadi di Indonesia. Penonton disuguhkan realita-realita dan problem yang sepertinya tidak kunjung pernah selesai di negeri ini. Diperkuat pula dengan musik yang bervariasi genre serta tawaran-tawaran gambar foto hasil karya Julian Nail Sitompul. Penoton larut dan seperti disadarkan akan pentingnya kembali memahami semangat nasionalisme.

Bagaimana tidak, bisa disimak dari dialog-dialog para aktor semisal seorang orang tua yang berada di atas pondok sembari terus mengawasi ladangnya. “Moncik-moncik datang daghi sagalo aghah, Rakus menyerang sawah yang saungguok, tanah yang sepetak. Hingga tak terdengar lagi tangisan bayi disela-sela nasehat Baghandu. Kampuong longang. Anak-anak muda  berbondong ke kota mengejar harapan. Kampuong tak berpenghuni. Tradisi mati.”

Dialog lainnya dari seorang tokoh yang sibuk memantau berita di surat kabar juga mencerminkan kegelisahan dan kegamangan akan keadaan negeri ini. “Sementara...

Berita hari ini masih tentang maraknya begal dan geng motor merajai jalan raya. Berita hari ini masih tentang hukum yang terkelupas. Berita hari ini masih tentang ekonomi yang sekarat. Berita hari ini masih tentang para penguasa yang berebut kuasa, sementara anak-anak SD masih mengeja Pancasila.”

Sutradara Willy Fwi mengatakan Riau Beraksi Studio Seni Peran memang mengangkat tema nasionalisme serta kondisi Indonesia hari ini yang diparalelkan dengan tradisi Bagahndu dari Kampar. Katanya, pertunjukan menoba meyakinkan penonton bahwa tradisi budaya seperti halnya Baghandu mempunyai nilai-nilai yagn kuat dalam membentuk karakter anak bangsa sejak dalam buaian. “Jika kita tetap berpegang teguh pada nilai-nilai luhur budaya, maka saya yakin tak akan marak genk motor, tawuran, korupsi, narkoba hingga korupsi. Bagahndu banyak mengandung pesan moral, ayat-ayat al quran, kepahlawanan dan cinta negeri yang disenandungkankepada anak-anak dalam buaian, “ ulas Willy.

Sementara itu, aktor senior, Taufik Effendi Aria usai pementasan berkomentar sungguh terharu menyaksikan pentas Indonesia Baghandu. Dalam ungkapan harunya itu, disebutkan pentas ini sungguh sebuah potret dari keberadaan negeri yang dicintai ini bernama Indonesia. “Saya sangat terharu karena dapat menyaksikan pentas teater yagn menurut saya sesuai dengan kehendak saya. Pertunjukan ini seolah menyimbolkan kondisi yang sedang kita hadapi. Di sebalah kanan panggung, terdengar Bagahndu yang meninabobokkan kita, di sebelah kiri panggung hadir pula aktor yang menyuguhkan berrita-berita Koran tentang kondisi negeri yang kian carut marut. Jadi pertanyaannya adalah, apakah pesan-pesan dari Baghandu sudah terlupakan atau sudah hilang dari sekitaran kita atau menjadi bagian dari kita?, saya sungguh terharu,” ungkapnya dalam ketidakmampuannya menahan isak tangis dan sapuan air mata. (*6)

sumber:Riaupos