A g e n d a /FIB Unilak
  STATISTIK /FIB Unilak
  • Dikunjungi oleh : 359445 user
  • IP address : 54.92.148.165
  • OS : Unknown Platform
  • Browser :
  • Beranda
  • Haul 3 Tahun Wafatnya Imam Sastra Riau, Hasan Junus
Haul 3 Tahun Wafatnya Imam Sastra Riau, Hasan Junus

Selasa,31 Maret 2015

Haul 3 tahun wafatnya Hasan Junus digelar oleh beberapa sastrawan dan seniman, Senin malam (30/3) di Aula Dewan Kesenian Riau (DKR). Acara yang diselenggarakan bertepatan dengan tanggal wafatnya imam sastra Riau itu berlangsung sederhana. Dimulai dengan pembacaan yasin bersama dan dilanjutkan dengan apresiasi terhadap karya-karya Hasan Junus baik berupa pembacaan cerpen, esai dan cerita kenangan dari puluhan seniman yang hadir malam itu.

Salah seorang penyelenggara, SPN Zuarman Ahmad mengatakan semasa hidupnya,  Hasan Junus selalu memberikan motifasi danselalu menjadi sumber inspirasi bagi penulis-penulis muda.

“Almarhum selalu mengutip pepatah Yunani yang berbunyi Scripta manen, verba volan. Artinya yang ditulis itu abadi dan yang diucapkan itu akan terbang seperti angin,” ucap Zuarman.

Oleh karenanya helat yang ditaja setiap tahun itu bertujuan untuk mengingat dan mengenang ketokohan Hasan Junus serta kiprahnya di bidang kepenulisan, juga bagaimana supaya ke depannya seniman-seniman Riau tetap mengenang jasa-jasa seniman Riau yang telah berpulang kerahmatullah.

“Mengenang yang dimaksud adalah dengan mengambil spirit dari apa yang telah dilakuan dalam hal proses berkesenian semasa mereka hidup. Maka saya kira, akan merasa berdosalah kalau kita tidak melaksanakan haul seperti ini, “ ucap sahabat dekat Hasan Junus itu.

 

Selintas Tentang Hasan Junus

Hasan Junus lahir di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau pada 12 Januari 1941. Ketotalan Alm Hasan Junus dalam bidang kepenulisan semasa hidupnya memang tidak diragukan lagi. Di Tanjung Pinang dalam tahun 1970-an, Hasan Junus bersama Eddy Mawuntu dan Iskandar Leo (nama pena Rida K Liamsi ketika itu) telah menerbitkan buletin budaya yang diberi nama Solarium serta memulai karya kreatif dalam sastra dengan kumpulan sajak mereka Jelaga. Setelah pindah ke Pekanbaru, Hasan Junus bersama Rida K Liamsi menerbitkan mingguan Genta. selain itu, Hasan Junus terlibat dengan berbagai kegiatan budaya diantaranya dengan majalah Menyimak. Hingga sampai akhir hayatnya, Hasan Junus yang dikalangan kerabatnya dikenal dengan panggilan HJ, memegang teraju majalah budaya sagang.

Ragam jenis tulisan yang telah dihasilkan Hasan Junus berupa esai, artikel, cerita pendek, naskah drama dan terjemahan karya-karya pengarang dunia serta tulisan-tulisan dari kegiatan penelitian budaya dan sejarah yang pernah dilakukannya. Beberapa karangan kreatifnya juga menjadi bahan kajian untuk skripsi oleh para mahasiswa. Bahkan saat ini, karya-karya Hasan Junus dibuat dokumentasinya oleh pihak pustaka Soeman Hs.

Di tanah kelahirannya dan di dalam masyarakatnya beliau sangat diketahui bernama sebenar Raja Haji Hasan ibni Raja Haji Muhammad Junus ibni Raja Haji Ahmad ibni Raja Haji Umar alias Raja Endut ibni Raja Haji Ahmad Engku Haji Tua ibni Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda IV Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang.

Jelaslah bahwa Hasan Junus adalah keturunan Diraja Melayu Riau-Lingga-Johor-Pahang dan keturunan langsung Raja Haji Fisabilillah yang pahlawan nasional itu. Di dalam diri Hasan Junus juga mengalir darah kepengarangan Raja Ali Haji, pujangga terkenal Melayu, pahlawan nasional, dan Bapak Bahasa Indonesia.

Kakek ayahnda beliau Raja Haji Muhammad Junus adalah Raja Haji Umar tak lain tak bukan adalah saudara kandung Raja Ali Haji karena kedua orang itu adalah putra Raja Haji Ahmad Engku Haji Tua. Bukankah Engku Haji Tua juga adalah seorang pengarang? Dan, Aisyah Sulaiman yang pengarang pejuang marwah perempuan dan disebut di awal tulisan ini adalah ibu saudara dua pupu Hasan Junus.

Mengarang nampaknya bagai seligi tajam bertimbal dalam diri Hasan Junus. Di satu ujungnya ia menjadi warisan intelektual Melayu yang memang wajib dipertahankan dan diteruskan oleh generasi Melayu sampai bila masa pun. Di ujung yang lain ia menjadi pusaka keturunan yang memang mesti ada yang menjaga dan melanjutkannya sehingga tugas mulia itu tak terputus di tengah jalan.

Hasan Junus pernah menjadi guru sekolah menengah swasta di Tanjungbatu Kundur, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau. Beliau pun pernah menjadi dosen luar biasa di Universitas Islam Riau, Pekanbaru dan Universitas Lancang Kuning, Pekanbaru. Walaupun begitu, pengajar bukanlah profesi utamanya. Profesi itu hanyalah sampingan bagi beliau dan dijalankannya tak terlalu lama. Menulis atau mengaranglah yang menjadi profesi utamanya.

Kesetiaannya menekuni bidangnya menjadikan Hasan Junus bukan penulis sekadar. Namanya tak hanya dikenal di peringkat daerah Kepulauan Riau dan Riau, tetapi juga dikagumi di persada nusantara, bahkan sampai ke luar negara. Karya cerpennya Pengantin Boneka, misalnya, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Jeanette Lingard dan diterbitkan dalam Diverse Lives-Contemporary Stories from Indonesia oleh Oxford University Press (1995), sebuah penerbit bergengsi di dunia. Bukunya Corak dan Ragi Tenun Melayu Riau (Adicita, Yogyakarta, 2003) yang ditulis bersama Abdul Malik, Tenas Effendy, dan Auzar Thaher kini menjadi bacaan di Australia dan dikoleksi oleh National Library of Australia.

Karena ketunakannya menekuni bidang yang menjadi minat utamanya, oleh penulis buku Dermaga Sastra Indonesia (Jamal D. Rahman dkk.), Penerbit Komodo Books, Jakarta, 2010; Hasan Junus disetarakan dengan H.B. Jassin. Disebutkan bahwa keduanya adalah pengamat yang setia dan penuh dedikasi atas pelbagai aspek sastra dan kesastrawanan yang menjadi pilihannya.

Sebagai penulis yang tekun, telah banyak karya yang dihasilkan oleh Hasan Junus. Dan, hal itu telah banyak pula diulas dan ditulis orang. Kesemua karya beliau sangat penting bagi perkembangan kesusastraan modern Melayu dan Indonesia. Di antara karya beliau itu yang perlu disebutkan di sini ada dua. Pertama, beliau menulis sejarah perjuangan Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda IV Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Kedua, bersama beberapa penulis lain, beliau juga menulis sejarah perjuangan Raja Ali Haji dalam bidang bahasa dan kebudayaan untuk diusulkan sebagai pahlawan nasional.

Beliau memiliki pengetahuan yang luas tentang kesusastraan nasional dan mancanegara. Beliau pun banyak menulis tentang apa pun yang diketahuinya tentang kesusastraan nasional dan mancanegara. Beliau juga banyak menerjemahkan dan menyadur karya-karya besar dari mancanegara. Bahkan, beliau juga banyak dibicarakan orang dalam kaitannya dengan kesusastraan nasional dan mancanegara. Walaupun begitu, Hasan Junus tak pernah kehilangan jati dirinya, identitasnya sebagai seorang Melayu. Diksi yang digunakannya, pola-pola kalimat yang dipakainya, teks atau wacana yang dihasilkannya tetap menyerlahkan beliau sebagai seorang Melayu sejati. Akan tetapi, bukan Melayu sebarang Melayu, melainkan Melayu berkualitas dunia karena kemauan, ketekunan, kecendekiaan, kecerdasan, dan kerja keras yang tak mengenal kata lelah, apa lagi berhenti.

Kehadiran seorang Hasan Junus dalam perjuangan dan perkembangan kesusastraan modern Melayu dan Indonesia sungguh telah memberikan warna yang khas dan terwaris sekaligus.

Di samping itu, dengan segala perjuangannya, beliau telah membuktikan bahwa pada setiap generasi pasti ada pelanjut tradisi intelektual Melayu asal kita menyadari betapa mustahaknya jati diri bagi suatu bangsa. Mewujudkan itu dengan karya yang bermutu menjadi tanggung jawab warisan setiap generasi Melayu. Itulah tugas terwaris yang telah ditunaikan dengan sangat baik oleh Hasan Junus.