A g e n d a /FIB Unilak
  STATISTIK /FIB Unilak
  • Dikunjungi oleh : 382269 user
  • IP address : 18.232.51.69
  • OS : Unknown Platform
  • Browser :
  • Beranda
  • Sekolah Alam Bandar Bakau Ala Darwis
Sekolah Alam Bandar Bakau Ala Darwis

Kamis,12 Maret 2015

Belajar dan berkreasi itu ternyata tidak hanya didapat dan dilakukan di dalam ruangan resmi dan formal. Di alam terbuka juga bisa dijadikan tempat untuk belajar dan berkreasi. Seperti halnya yang diyakini dan dilakukan salah seorang seniman Dumai, Darwis Muhammad Saleh sejak 2010 lalu.

Pria kelahiran 7 Maret 1968 itu membuka sekolah untuk anak-anak yang mau belajar dari alam dan berkreatifitas di tengah hutan bakau tepatnya di salah satu kota di Dumai. Darwis mampu menyulap hutan bakau menjadi tempat belajar yang menyenangkan bagi anak-anak dengan mendirikan beberapa pondok di dalam hutan bakau tersebut.

Kata Darwis, dengan demikian, mereka bisa bersahabat dan lebih dekat dengan alam. Bahkan, setiap pekan mereka bebas meluapkan ekspresi, sembari mengasah kreatifitas.

Lokasi sekolah alam itu, berada di Kampung Kedondong, Kelurahan Pangkalan Sesai, Dumai. Jaraknya sekitar 3 Km dari pusat Kota Dumai. "Saya ingin membuat mereka lebih dekat dengan alam. Bahkan akrab dengan Hutan Magrove yang ada di tepi Pantai Dumai ini," jelas Darwis.

Darwis menceritakan, sekolah itu awalnya digagas karena keinginannya untuk membuat anak-anak di Dumai lebih nyaman dengan nuansa alam. Bukannya akrab dengan asap kendaraan bermotor dan dari pabrik-pabrik yang ada di kota Dumai ini.

Tak heran kemudian, setiap hari Ahad sekitar pukul 09.00 WIB, beberapa anak berusia 8-13 tahun berkumpul di sebuah pandopo di tengah hutan bakau. Mereka dengan antusias menyimak pengarahan sang guru. Mereka dikenalkan dengan lingkungan di sekitar mereka, kemudian mereka juga akan didampingi untuk menghasilkan karya tulisan. Tulisan yang mereka buat, dibaca di tengah-tengah teman dan guru.

 “Kami tidak memungut bayaran apapun. Siswa masuk setiap hari Ahad, dari pukul 9 sampai dengan pukul 4 petang. Dan mereka bawa bekal masing-masing untuk makan,” ujar Darwis lagi.

Menurut Darwis, materi utama yang diberikan kepada siswa-siswi adalah mengenal lingkungan. Setelah siswa mengenal lingkungan, siswa juga harus berbuat. Dalam hal ini, siswa dituntut dapat menulis tentang lingkungan, baik berupa karya fiksi maupun karya tulisan lainnya. Bahkan untuk melatih mental mereka, siswa-siswi juga diajar keberaniannya dengan melakukan pementasan seni.

“Mereka bisa membaca puisi, mementaskan drama. Jalur seni pertunjukan merupakan cara melatih mental mereka,” tambah Darwis.